Lifestyle

World Day Against Child Labour, Mom Yuk Pahami Tentang Pekerja Anak

Tanggal 12 Juni diperingati sebagai Hari Dunia Menentang Pekerja Anak (World Day Against Child Labour). Orang tua wajib memahami apa itu pekerja anak.


World Day Against Child Labour, Mom Yuk Pahami Tentang Pekerja Anak
World Day Against Child Labour

AKURAT.CO, Tanggal 12 Juni diperingati sebagai Hari Dunia Menentang Pekerja Anak (World Day Against Child Labour). Hari ini diperingati untuk meningkatkan kesadaran akan masalah global pekerja anak dan mencari solusi yang diperlukan untuk mengatasinya.

Ini merupakan peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak pertama sejak ratifikasi universal Konvensi ILO (International Labour Organization) No. 182 tentang Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak, dan terjadi pada saat krisis Covid-19.

Menurut laporan yang baru-baru ini dirilis, pandemi global telah membuat jumlah  pekerja anak meningkat menjadi 160 juta di seluruh dunia - peningkatan 8,4 juta anak dalam empat tahun terakhir. 

Tema pertama dari peringatan ini adalah  "Bertindak Sekarang: Akhiri Pekerja Anak". 

Dari keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 5 Tahun 2001 tentang Penanggulangan Pekerja Anak Pasal 1, menyatakan bahwa pekerja anak adalah anak yang melakukan semua jenis pekerjaan yang membahayakan kesehatan dan menghambat proses belajar serta tumbuh kembang.

Terkait hal ini, National Programme Officer International Labour Organization (ILO) Irham Ali Saifudin mengingatkan orang tua untuk menyadari perbedaan antara pekerja anak dengan anak yang bekerja. 

Ia menyebut bahwa hak seorang anak adalah mendapatkan pendidikan, kasih sayang dan perlindungan bukan hanya dari orangtua tapi juga dari lingkungan tempat anak tumbuh. Sementara kewajibannya hanyalah bermain dan belajar.  Apabila anak sudah melakukan pekerjaan hingga menghalangi hak dan kewajibannya, maka itu sudah dikategorikan pekerja anak. 

Sementara, orang tua yang meminta bantuan anak tanpa menganggu kewajibannya, maka itu termasuk kategori anak yang bekerja. 

"Kalau orangtua meminta bantuan anak meminta mengerjakan sesuatu itu tidak bisa disebut sebagai pekerja anak," tutur Irham dalam peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak, Sabtu, (12/6/2021).

"Anak yang bekerja adalah yang bekerja itu masih mendapatkan akses terhadap dunia pendidikan, pembatasan jam kerja, dan jenis-jenis pekerjaan yang dilakukan tidak membahayakan anak baik secara moral maupun fisik atau yang lainya," pungkas Irham.

Irham menambahkan bahwa ini sangat penting agar orang tua memahami apa yang telah dilakukan terhadap anak, sehingga terhindar dari praktik pekerja anak.

Pekerja anak adalah masalah sosial yang telah menjadi isu dan agenda global bangsa-bangsa didunia, tak terkecuali di Indonesia. Data ILO menunjukkan, jumlah pekerja anak di dunia mencapai sekitar 200 juta jiwa. Dari jumlah itu, 75 persen berada di Afrika, 7 persen di Amerika Latin, dan 18 persen di Asia.

Sementara mengutip laman resmi Kementerian Ketenagakerjaan, dalam periode 2008 hingga 2020, terdapat 143.456 pekerja anak yang telah ditarik dari sekitar 1,5 juta pekerja anak yang berumur 10-17 tahun berdasarkan Data survei Sosial Ekonomi Nasional yang dilakukan oleh BPS pada tahun 2019.

Adapun Indonesia telah melarang praktik pekerja anak, sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan pasal 68.[]