News

WHO: Larangan Perjalanan Tak Akan Mencegah Penyebaran Omicron

WHO: Larangan Perjalanan Tak Akan Mencegah Penyebaran Omicron


WHO: Larangan Perjalanan Tak Akan Mencegah Penyebaran Omicron
Pemberitahuan tentang langkah-langkah keamanan Covid-19 digambarkan di sebelah pintu tertutup di aula keberangkatan bandara internasional Narita,Jepang, Selasa (30/11). ( REUTERS/Kim Kyung-Hoon )

AKURAT.CO, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan bahwa larangan perjalanan menyeluruh tidak akan mencegah penyebaran varian Omicron. Peringatan ini disampaikan pada Selasa (30/12), ketika kasus pertama Omicron terdeteksi di Amerika Latin dan semakin banyak negara memberlakukan pembatasan perjalanan.

Dalam keterangannya, WHO mengatakan bahwa larangan perjalanan semacam itu nantinya justru akan berisiko membawa lebih banyak bahaya dibanding manfaat. 

Dalam nasihat perjalanannya, WHO pun memperingatkan bahwa larangan itu pada akhirnya dapat menghalangi negara-negara untuk berbagi data tentang mutasi Omicron yang berkembang.

"Larangan perjalanan tidak akan mencegah penyebaran internasional, dan itu akan membebani kehidupan dan mata pencaharian. Selain itu, larangan dapat berdampak buruk pada upaya kesehatan global selama pandemi karena itu menghalangi negara-negara untuk melaporkan dan berbagi data epidemiologis dan sekuensing," kata WHO dalam pernyataan saran perjalanan untuk Omicron.

Kendati mengingatkan soal larangan perjalanan, WHO tetap menekankan pentingnya pencegahan, terutama bagi kelompok rentan. Dikatakan orang yang rentan Covid-19, termasuk warga usia atas 60 tahunan, harus menunda rencana untuk pergi ke luar negeri. Diimbau pula bahwa mereka sebaiknya menghindari perjalanan ke daerah-daerah dengan penularan virus secara komunitas.

“Diprediksi varian Omicron akan terdeteksi di semakin banyak negara karena otoritas nasional meningkatkan kegiatan pengawasan dan pengurutan mereka,” katanya.

“Orang yang tidak sehat atau berisiko terkena penyakit Covid-19 yang parah dan sekarat, termasuk orang berusia 60 tahun atau lebih atau mereka yang memiliki penyakit penyerta (misalnya, penyakit jantung, kanker, dan diabetes) disarankan untuk menunda perjalanan,” kata WHO. 

Pemberitahuan WHO terbaru muncul di tengah makin banyaknya negara yang bergegas memberlakukan pembatasan karena varian Omicron. Hanya dalam rentang waktu seminggu sejak jenis virus baru itu dilaporkan oleh Afrika Selatan, lusinan negara di seluruh dunia menanggapi dengan pembatasan perjalanan. Sebagian besar turut menargetkan negara-negara Afrika selatan.

WHO: Larangan Perjalanan Tak Akan Mencegah Penyebaran Omicron - Foto 1
 Orang yang rentan Covid-19 harus menunda rencana untuk bepergian ke luar negeri, kata WHO- Bloomberg via Straits Times

Tenang, terkoordinasi, dan koheren

WHO pada Minggu (28/11) mengatakan bahwa ada 56 negara yang telah menerapkan langkah-langkah perjalanan untuk mengatasi impor varian baru.

Terkait tanggapan larangan perjalanan itu, Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengakui bahwa Omicron menjadi 'varian yang belum sepenuhnya dipahami'. Ia pun mengerti jika negara-negara berusaha melindungi warganya dari varian tersebut. Namun, Tedros, dalam tanggapannya, juga menyerukan negara-negara anggota untuk tetap tenang sembari mengambil langkah koheren dalam menanggapi Omicron. 

Dalam hal ini, ia mendesak negara-negara di dunia untuk mengambil langkah-langkah pengurangan risiko secara rasional dan proporsional.

"Kami meminta semua negara anggota untuk mengambil langkah-langkah pengurangan risiko yang rasional dan proporsional. Respons global harus tenang, terkoordinasi, dan koheren. Kita masih memiliki lebih banyak pertanyaan daripada jawaban tentang efek Omicron pada penularan, tingkat keparahan penyakit, dan efektivitas tes, terapi dan vaksin."

"Itu bisa dimengerti bahwa negara-negara (di dunia) ingin melindungi warganya dari varian yang belum sepenuhnya kita pahami.Tetapi saya sama-sama prihatin bahwa beberapa negara anggota memperkenalkan langkah-langkah tumpul dan menyeluruh yang tidak berbasis bukti atau efektif, dan yang hanya akan memperburuk ketidakadilan,"  kata Tedros pada Selasa (30/1). 

Kemungkinan kesia-siaan pembatasan perjalanan yang luas juga digarisbawahi ketika otoritas Belanda melaporkan bahwa Omicron hadir di negara itu sebelum Afrika Selatan melaporkan kasus pertamanya pada 25 November.

Varian baru yang tinggi mutasi itu, ditemukan dalam dua sampel uji Belanda dari 19 dan 23 November. Dari sampel itu, satu pasien tidak tidak memiliki riwayat perjalanan.

Sejauh ini, lebih dari selusin negara dan wilayah telah mendeteksi kasus, termasuk Australia, Inggris, Kanada, Hong Kong, Israel, Italia, dan Portugal.

Pada Selasa, Amerika Latin melaporkan dua kasus pertamanya. Dari kasus itu, salah satunya sempat mengadakan perjalanan dari Afrika Selatan ke Brasil. Hal yang sama juga terjadi di Jepang, di mana kasus pertama Omicron dikonfirmasi hanya sehari setelah meeka melarang semua kedatangan asing. 

Presiden Amerika Serikat Joe Biden, sementara itu, mengatakan larangan perjalanan untuk Afrika Selatan dan tujuh negara di Afrika selatan akan tetap berlaku. 

Pembatasan AS sendiri berlaku mulai Senin (29/11), dan saat ditanya aturan itu akan berlaku, Biden menjawab 'tergantung'.

"Kita akan belajar lebih banyak dalam beberapa minggu ke depan tentang virus mematikan ini, tentang seberapa besar penyebarannya, apa yang harus kita kendalikan, dan sebagainya," katanya kepada wartawan.

Kebijakan hampir serupa juga  terjadi di Asia, di mana mereka memutuskan untuk memperluas pembatasan. Di antaranya termasuk Indonesia yang menambahkan Hong Kong ke daftar larangan perjalanannya bersama dengan berbagai negara Afrika.

Hong Kong juga menambahkan tiga negara yakni Jepang, Portugal, dan Swedia, ke kategori pembatasan perjalanan tertinggi setelah kasus Omicron ditemukan di negara-negara tersebut. []