News

WHO: Indonesia Perlu 'Tindakan Mendesak' Tambahan demi Atasi Ledakan COVID-19

WHO pada Kamis (22/7) mendesak Indonesia agar menerapkan pembatasan yang lebih ketat dan lebih luas demi memerangi lonjakan infeksi dan kematian COVID-19.


WHO: Indonesia Perlu 'Tindakan Mendesak' Tambahan demi Atasi Ledakan COVID-19
Pekan ini, angka kematian harian akibat COVID-19 di Indonesia memecahkan rekor tertinggi dengan menembus 1.400. (Foto: EPA via Al Jazeera) ()

AKURAT.CO, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis (22/7) mendesak Indonesia agar menerapkan pembatasan yang lebih ketat dan lebih luas demi memerangi lonjakan infeksi dan kematian COVID-19.

Dilansir dari Reuters, Indonesia telah menjadi salah satu episentrum pandemi global dalam beberapa pekan terakhir. Kasus positif COVID-19 melonjak 5 kali lipat dalam 5 minggu terakhir. Tak tanggung-tanggung, pekan ini, angka kematian hariannya memecahkan rekor tertinggi dengan menembus 1.400, salah satu jumlah korban tertinggi di dunia.

Dalam laporan situasi terbarunya, WHO menyerukan 'tindakan mendesak'  tambahan untuk mengatasi peningkatan tajam infeksi di 13 dari 34 provinsi di Indonesia. Badan kesehatan global itu juga menegaskan pentingnya penerapan protokol kesehatan masyarakat dan pembatasan sosial.

"Indonesia saat ini menghadapi tingkat penularan yang sangat tinggi. Ini menunjukkan pentingnya penerapan kesehatan masyarakat dan protokol sosial yang ketat, terutama pembatasan pergerakan di seluruh negeri," ungkapnya.

Pembatasan sosial seperti bekerja dari rumah dan penutupan mal masih terbatas di Pulau Jawa, Bali, dan sebagian kecil daerah lainnya. Sementara itu, sektor ekonomi yang dianggap esensial dibebaskan sebagian dari pembatasan.

Baca Juga: Jadi Sorotan Media Asing, Indonesia Berpotensi Lahirkan Varian COVID-19 Super yang Baru

Pada Selasa (20/7), Presiden Joko Widodo juga mengumumkan pelonggaran pembatasan mulai pekan depan. Ia mengutip data resmi yang menunjukkan penurunan infeksi dalam beberapa hari terakhir. Padahal, menurut para ahli epidemiologi, penurunan ini terjadi karena tingkat tesnya juga turun.

"Tingkat positif harian Indonesia, proporsi orang yang dites dan dinyatakan terinfeksi, rata-rata 30 persen selama seminggu terakhir, bahkan ketika jumlah kasus telah turun. Padahal, tingkat di atas 20 persen berarti penularan sangat tinggi," imbuh WHO.

Menurut keterangan WHO, seluruh provinsi di Indonesia, kecuali satu, memiliki tingkat positif di atas 20 persen. Hanya Aceh yang berada di angka 19 persen.

Sementara itu, Luhut Binsar Pandjaitan yang menangani pembatasan mengatakan pembatasan dapat dilonggarkan di daerah dengan tren penurunan penularan, kapasitas rumah sakit meningkat, dan 'kondisi sosiologis' warga yang menuntutnya.

Kelompok pengusaha pun memperingatkan PHK massal, kecuali pembatasan dilonggarkan pekan depan. Mereka ingin semua staf operasional diizinkan bekerja di kantor dan pabrik di industri esensial, termasuk semua bisnis berorientasi ekspor, hotel, dan perusahaan teknologi informasi.[]