Lifestyle

WHO: Cacar Monyet Bukan Darurat Kesehatan Global

Penyebaran cepat cacar monyet di puluhan negara tidak menjadikan penyakit ini tergolong sebagai darurat kesehatan global.


WHO: Cacar Monyet Bukan Darurat Kesehatan Global
Ilustrasi Monkeypox alias cacar monyet (Akurat.co)

AKURAT.CO Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyampaikan, penyebaran cepat cacar monyet di puluhan negara tidak menjadikan penyakit ini tergolong sebagai darurat kesehatan global.

Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus hanya menyebut, cacar monyet sebagai ancaman kesehatan yang berkembang dan mendesak pemerintah di seluruh dunia melakukan pemantauan dan pengawasan, penelusuran kontak, tes, dan memastikan orang-orang yang berisiko tinggi memiliki akses vaksin dan pengobatan antivirus.

Dikutip dari laman CNBC, WHO mengumupulkan komite kedaruratan untuk menetapkan tingkat bahaya cacar monyet terhadap komunitas internasional. 

baca juga:

Menurut data WHO, sedikitnya 3.000 kasus cacar monyet ditemukan di lebih dari 50 negara sejak awal Mei.

Kendati WHO tidak mengaktifkan tingkat siaga tertingginya, Tedros mengatakan wabah cacar monyet meningkatkan kekhawatiran karena menyebar cepat di negara-negara non endemik, di luar Afrika Barat dan Tengah. Dalam wabah saat ini, 84 persen kasus dilaporkan di Eropa.

"Apa yang membuat wabah terbaru ini secara khusus mengkhawatirkan adalah kecepatan, terus menyebar ke negara-negara dan kawasan baru dan risiko penularan lebih lanjut dan berkelanjutan ke populasi rentan, termasuk orang-orang yang mengalami masalah kekebalan, perempuan hamil dan anak-anak," jelas Tedros dalam rilisnya pada Sabtu waktu setempat, dikutip dari CNBC pada Minggu (26/6/2022)..

Sejauh tahun ini, sudah ada hampir 1.500 kasus dan 70 kematian dilaporkan di Afrika tengah, di mana penyakit cacar monyet lebih umum terjadi. Kasus-kasus itu terutama berasal dari Republik Demokratik Kongo.

Sementara itu di luar negara endemik, cacar monyet dilaporkan telah menyebar sebagian besar pada pria yang berhubungan seks dengan pria.

Virus cacar monyet menjadi virus zoonotik, dengan penyakit yang ditimbulkan memiliki gejala mirip flu dan lesi kulit.

Virus tersebut setidaknya memiliki dua clade. Salah satunya adalah strain Afrika Barat, yang diyakini memiliki tingkat kematian sekitar 1 persen dan merupakan varian yang menyebar di Eropa dan tempat lain. 

Sementara yang satunya adalah strain Congo Basin, yang memiliki tingkat kematian mendekati 10 persen, kata WHO.

Ada vaksin dan perawatan yang tersedia untuk cacar monyet, meskipun persediaannya terbatas.

WHO sebelumnya membuat deklarasi serupa untuk penyakit termasuk Covid-19, Ebola di Kongo dan Afrika Barat, Zika di Brasil, dan upaya berkelanjutan untuk menghapus polio.

Deklarasi darurat sebagian besar berfungsi sebagai permohonan, untuk menarik lebih banyak sumber daya global dan perhatian terhadap wabah. 

Pengumuman sebelumnya, pengumuman WHO memiliki dampak yang beragam, mengingat WHO sebagian besar tidak berdaya ketika mencoba meyakinkan negara untuk bertindak.

Namun, yang lain menunjukkan bahwa WHO berada dalam posisi sulit setelah Covid-19. Diketahui deklarasi virus corona sebagai PHEIC pada Januari 2020, sempat diabaikan oleh banyak pemerintah. 

Barulah sekitar enam minggu kemudian, ketika WHO menggunakan kata 'pandemi' dan negara-negara bergegas mengambil tindakan.