News

WHO Bakal Putuskan Status Cacar Monyet Minggu Depan, Apakah Seperti Covid-19?

Penentuan WHO untuk menyatakan suatu wabah sebagai PHEIC berguna untuk mempercepat penelitian dan pendanaan dalam mengatasi penyakit terkait.

WHO Bakal Putuskan Status Cacar Monyet Minggu Depan, Apakah Seperti Covid-19?
Tabung reaksi berlabel 'virus cacar monyet positif dan negatif' terlihat dalam ilustrasi yang diambil pada 23 Mei 2022 (Dado Ruvic/Illustration/File Photo)

AKURAT.CO  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan mengadakan komite darurat untuk menilai apakah wabah cacar monyet merupakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.

Pengumuman itu datang pada Selasa (14/6), dengan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom mengatakan bahwa wabah global penyakit tersebut  'jelas tidak biasa dan mengkhawatirkan'.

Keadaan darurat kesehatan masyarakat merupakan peringatan tertinggi yang dikeluarkan WHO, yang saat ini hanya berlaku untuk pandemi Covid-19 dan polio. Menurut Tedros, komite darurat terkait cacar monyet rencananya akan digelar pada Kamis (23/6) minggu depan. 

baca juga:

"Wabah cacar monyet yang muncul secara global jelas tidak biasa dan mengkhawatirkan. Karena alasan itulah, saya memutuskan untuk mengadakan Komite Darurat di bawah Peraturan Kesehatan Internasional minggu depan untuk menilai apakah wabah ini merupakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional," kata Tedros, dikutip dari Business-standard. 

Sejauh tahun ini, lebih dari 1.600 kasus telah dikonfirmasi, dan hampir 1.500 kasus dugaan cacar monyet dilaporkan ke WHO. Ribuan kasus ini datang dari 39 negara, termasuk tujuh di mana cacar monyet telah terdeteksi selama bertahun-tahun. Sementara sisanya berasal dari 32 negara yang baru terkena kasus, ungkap Tedros saat memberi pengarahan kepada media.

Cacar monyet telah menjadi endemik di beberapa bagian di Afrika. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, ada lebih banyak kasus terjadi, baik di negara-negara tersebut dan di seluruh dunia.  Virus ini menyebabkan gejala seperti flu dan lesi kulit, dan menyebar melalui kontak dekat.

Diperkirakan bahwa penyakit langka ini memilliki dampak fatal pada sekitar 3 hingga 6 persen kasus. Tahun ini, WHO menerima 72 kasus kematian dari negara-negara yang sebelumnya terkena dampak wabah cacar monyet, dengan mayoritas kasus berada di Republik Demokratik Kongo.

Sedangkan pada negara-negara non-endemik, belum ada kematian yang dilaporkan. Kendati begitu, WHO mengatakan sedang berusaha memverifikasi laporan berita dari Brasil yang mengeklaim satu kasus kematian terkait cacar monyet.

"Kami tidak ingin menunggu sampai situasi berada di luar kendali," kata direktur kedaruratan WHO untuk Afrika, Ibrahima Soce Fall.

Menurut Reuters, pertemuan komite minggu depan akan dihadiri oleh para ahli global. Namun, pada penentuannya, direktur jenderal WHO yang akan membuat keputusan akhir tentang apakah wabah itu layak diberi label darurat kesehatan global, atau yang dikenal  'PHEIC'.

Para ahli telah mendorong WHO untuk tindakan lebih cepat selama beberapa minggu, menyusul kritik terhadap tanggapan awal badan PBB tersebut terhadap pandemi virus corona.

Selain Covid-19 dan polio, wabah penyakit lain telah dinyatakan sebagai PHEIC, adalah Ebola pada tahun 2014.

Penentuan WHO untuk menyatakan suatu wabah sebagai PHEIC berguna untuk mempercepat penelitian dan pendanaan dalam mengatasi penyakit terkait.

Meski begitu, alarm semacam ini juga bisa ditarik oleh komite darurat WHO. Seperti yang terjadi pada 2016, di mana komite akhirnya tidak memberi peringatan tertingginya pada wabah demam kuning di Afrika Barat.

Untuk saat ini, WHO akan bekerja sama dengan mitra untuk mengubah nama cacar monyet dan variannya, serta mekanisme untuk membantu berbagi vaksin yang tersedia secara lebih adil.

Beberapa negara telah mulai memvaksinasi petugas kesehatan dan kontak dekat pasien cacar monyet menggunakan vaksin cacar, virus terkait dan lebih serius yang diberantas pada tahun 1980.

WHO juga sebelumnya telah mengeluarkan pedoman baru tentang penggunaan vaksin cacar untuk cacar monyet.

Bersamaan dengan itu, Tedros menegaskan bahwa WHO tidak merekomendasikan vaksinasi massal terhadap cacar monyet.

"Sementara vaksin cacar diharapkan memberikan perlindungan terhadap cacar monyet, masih ada data klinis yang terbatas, dan persediaan yang terbatas pula," kata Tedros, seraya menambahkan bahwa setiap keputusan tentang apakah akan menggunakan vaksin harus dibuat bersama oleh individu yang mungkin berisiko dan penyedia layanan kesehatan.[]