News

Waspada! Tak hanya Pandemi, Global Warming juga Mengintai Indonesia

Indonesia butuh Rp 3.779 triliun untuk mengurangi CO2 sebagai antisipasi dampak global warming.


Waspada! Tak hanya Pandemi, Global Warming juga Mengintai Indonesia
Pakar lingkungan hidup Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Lily Surayya Eka Putri, M.Env.Stud (Tangkapan Layar)

AKURAT.CO, Dampak global perubahan iklim tak kalah dahsyat dibanding pandemi Covid-19. Hal tersebut juga berdampak ke Indonesia.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani memperkirakan Indonesia membutuhkan biaya untuk berkontribusi mengurangi CO2 dari dampak global perubahan iklim ini. Hitungannya, Indonesia butuh Rp 3.779 triliun sampai 2030 untuk mengurangi CO2.

Pakar lingkungan hidup Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Lily Surayya Eka Putri tak kaget dengan pernyataan Sri Mulyani itu. Lily mengatakan, apa yang disampaikan Menkeu itu sudah diprediksi komunitas lingkungan sejak 2008.

"Jika tak ada perbaikan, kondisi lingkungan di dunia akan rusak. Salah satunya Ibu Kota Jakarta bisa tenggelam, itu prediksinya," kata Lily dalam program Bincang Hikmah, Kamis (5/8/2021).

Program Bincang Hikmah bertema Menghadapi Perubahan Iklim ini diselenggarakan atas kerja sama Akurat.co dan Prodi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (S2 KPI) FIDKOM UIN Jakarta.

Lily mengatakan, akibat perubahan iklim, pada tahun 2010 diprediksi luas daratan yang hilang 7.500 meter persegi karena naiknya air laut. Pada pada tahun 2050 diprediksi 30 ribu meter persegi akan hilang.

"Kenyataannya saat ini kenaikan permukaan laut itu sudah mencapai 23 cm. Paling tidak 8 cm dalam 25 tahun terakhir terjadi kenaikan luar biasa. Sementara yang standar harusnya kurang dari 3,3 milimeter. Tapi sekarang rata-rata sudah 3,3 milimeter," ujar Wakil Rektor UIN Jakarta tersebut.

Lily memaparkan bahwa perubahan iklim atau global warming terjadi sebenarnya akibat dari kegiatan manusia di bumi. Yang paling besar adalah berasal dari emisi gas kegiatan manusia seperti pembakaran hutan dan pabrik-pabrik. "Sehingga panas naik ke atmosfir," kata Lily. 

Dampak pemanasan global akan sangat terlihat di kota-kota besar sepeti di Jakarta yang makin panas. Daerah seperti Bogor yang dulu sejuk juga mulai panas. "Sekarang untuk melihat lingkungan tidak baik, pagi-pagi lihat langit tertutupi asap. Itu isinya gas beracun bukan kabut. Itu kumpulan gas dari emisi gas buang," terang Lily.

"Akibat perubahan iklim efeknya yang paling kena biodata di laut. Berapa nelayan akan kehilanagan mata pencaharian. Terumbu akan hilang. Juga penguapan air laut besar-besaran. Lahan budidaya akan hilang dan perikanan makin terganggu," papar Lily. 

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa isu perubahan iklim merupakan bencana global yang dampaknya diperkirakan akan sama seperti pandemi Covid-19. Bedanya, Covid-19 pertama kali muncul di Wuhan, Cina, yang kemudian meluas ke seluruh dunia dengan begitu cepat bersamaan dengan mobilitas manusia. 

Sedangkan, ancaman perubahan iklim beriringan dengan pembangunan di suatu negara. Semakin rakyatnya sejahtera, mobilitas semakin tinggi, dan penggunaan energi semakin besar, maka seluruh kegiatan manusia akan menghasilkan emisi karbon yang akan mengancam dunia dalam bentuk kenaikan suhu.[]