News

Waspada! 35 Warga China Terinfeksi Virus Baru Langya, Belum Ada Vaksin dan Obatnya

Virus Langya termasuk dalam keluarga henipavirus yang punya tingkat kematian 40-70 persen, jauh di atas tingkat kematian keluarga virus corona.

Waspada! 35 Warga China Terinfeksi Virus Baru Langya, Belum Ada Vaksin dan Obatnya
Virus Langya atau Langya henipavirus (LayV) pertama kali terdeteksi pada akhir 2018. (Newsweek)

AKURAT.CO Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) Taiwan pada Minggu (7/8) mengaku tengah memantau perkembangan terkini seputar penyakit baru bernama virus Langya atau Langya henipavirus (LayV). Sejauh ini, 35 orang di China telah dites positif dalam beberapa pekan terakhir, menurut laporan Focus Taiwan.

Dilansir dari Newsweek, virus Langya pertama kali terdeteksi pada akhir 2018.

Sejumlah kasus positif baru-baru ini dilaporkan di Provinsi Shandong dan Henan yang bertetangga. Taiwan pun berjanji akan mulai mengembangkan prosedur untuk melacak virus Langya dan mengurutkan genomnya.

baca juga:

Tak satu pun dari 35 pasien memiliki kontak dekat satu sama lain. Mereka juga tak ditemukan punya titik paparan yang sama. Artinya, penyebaran virus telah sporadis pada manusia saat ini. Virus tersebut juga diketahui ditemukan pada hewan tertentu, seperti tikus.

Tak diketahui saat ini apakah penyebaran virus sekarang disebabkan oleh penularan dari hewan. Namun, otoritas China tetap mendesak agar berhati-hati. Informasinya masih terlalu dini, sehingga belum jelas apakah virus dapat ditularkan dari manusia ke manusia, meski laporan sebelumnya menunjukkan demikian.

Otoritas juga ingin bekerja sama dengan Dewan Pertanian untuk menentukan apakah virus ini ditemukan pada makhluk asli Henan dan Shandong.

Menurut Direktur Jenderal CDC Taiwan, Chuang Jen-Hsiang, semua pasien hanya terinfeksi virus Langya, kecuali 9 kasus yang tercatat. Gejala khasnya meliputi demam, kelelahan, batuk, kehilangan nafsu makan, nyeri otot, mual, sakit kepala, dan muntah. Dalam kasus yang lebih parah, pasien telah menunjukkan penurunan sel darah putih, jumlah trombosit yang rendah, gagal hati, dan gagal ginjal. Belum ada kematian yang dilaporkan sejauh ini.

Keluarga henipavirus, termasuk jenis baru ini, digolongkan sebagai virus dengan tingkat keamanan hayati 4, menurut WHO. Artinya, tingkat kematiannya mulai dari 40 persen hingga 75 persen. Menurut Global Times, ini jauh di atas tingkat kematian yang umum untuk virus corona, keluarga virus Covid-19.

Saat ini, tak ada vaksin untuk henipavirus. Satu-satunya pengobatan yang dapat diberikan oleh dokter dan profesional medis adalah perawatan pendukung untuk berbagai gejala.[]