News

Warga Ukraina yang Bantu Referendum Rusia Hadapi Tuduhan Makar, Ancaman 5 Tahun Penjara

Warga Ukraina yang Bantu Referendum Rusia Hadapi Tuduhan Makar, Ancaman 5 Tahun Penjara
Seorang pemilih menunjukkan surat suara kepada wartawan di tempat pemungutan suara yang terletak di Universitas Teknik Negeri Don pada hari kedua referendum tentang bergabungnya wilayah Ukraina yang dikuasai Kremlin ke Rusia, di Rostov-on-Don, Sabtu (24/9) (Arab News)

AKURAT.CO Warga Ukraina yang kedapatan membantu referendum Rusia bakal menghadapi tuduhan pengkhianatan, dengan ancaman penjara selama setidaknya lima tahun.

Penasihat presiden Ukraina mengumumkan langkah itu saat pemungutan suara di empat wilayah di Ukraina telah memasuki hari terakhirnya. 

Upaya referendum yang sedang dilakukan Rusia bertujuan untuk menganeksasi wilayah-wilayah yang telah didudukinya selama invasi. Keempat daerah yang menyelenggarakan pemungutan suara mewakili sekitar 15 persen dari keseluruhan wilayah Ukraina.

baca juga:

"Kami telah mengantongi daftar nama orang-orang yang terlibat dalam beberapa cara (terkait dengan referendum). 

"Kita berbicara tentang ratusan kolaborator. Mereka akan diadili karena makar. Mereka menghadapi hukuman penjara setidaknya lima tahun," kata penasihat presiden, Mikhailo Podolyak dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Swiss Blick.

Namun, Podolyak menegaskan bahwa warga Ukraina yang dipaksa memilih tidak akan dihukum. 

Pejabat Ukraina telah melaporkan kotak suara dibawa dari pintu ke pintu dan penduduk dipaksa untuk memilih di depan keamanan yang didukung Rusia.

Moskow berharap untuk mencaplok empat provinsi yakni Kherson, Luhansk, Donetsk dan Zaporizhzhia, di timur dan selatan, yang membentuk sekitar 15 persen dari Ukraina.

Sejauh ini, tidak ada provinsi yang sepenuhnya berada di bawah kendali Moskow. Pertempuran juga masih berlangsung di seluruh garis depan, dengan pasukan Ukraina melaporkan lebih banyak kemajuan sejak mereka mengalahkan pasukan Rusia di provinsi kelima, Kharkiv pada awal bulan ini.

Penguasa Kremlin, Vladimir Putin sebelumnya telah mengeluarkan ancaman terselubung untuk menggunakan senjata nuklir dengan alasan melindungi tanah Rusia. Dan jika referendum memenangkan Moskow dan jadi dianeksasi, maka tanah yang diklaim Rusia akan meluas, ikut mencakup empat provinsi tersebut.

Pemungutan suara tentang apakah akan bergabung dengan Rusia dimulai pada Jumat (23/9) pekan lalu, dan akan berakhir pada Selasa (27/9) waktu setempat. Menurut Reuters seperti dilansir dari Arab News, parlemen Rusia kemungkinan akan menyetujui pencaplokan hanya dalam kurun waktu beberapa hari.

Putin pun kemungkinan akan mengumumkan aksesi wilayah Ukraina yang diduduki ke Federasi Rusia selama pidatonya di parlemen pada 30 September. Hal ini diungkap oleh pada Selasa oleh Kementerian Pertahanan Inggris.

Kyiv dan Barat tegas menolak referendum Rusia, menyebutnya sebagai 'tipuan'. Mereka juga telah berjanji untuk tidak mengakui hasilnya, seperti halnya Krimea yang lebih dulu dicaplok Rusia.[]