News

Warga Terkejut dengan Temuan YLKI Soal Harga Rapid Tes Antigen Rp50 Ribu

Mestinya Kemenkes dapat mengupayakan HET tes rapid antigen agar lebih murah


Warga Terkejut dengan Temuan YLKI Soal Harga Rapid Tes Antigen Rp50 Ribu
Warga saat mengikuti rapid test massal yang diselenggarakan Relawan Indonesia Bersatu Lawan COVID-19 di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2020) (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Dinda (26), salah satu pegawai swasta di Jakarta mengaku terkejut dengan temuan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengenai Harga Eceran Tertinggi (HET) tes rapid antigen Rp50 ribu.

Tulus sebelumnya mengatakan bahwa Kemenkes menerapkan HET rapid tes antigen terlalu mahal, yakni Rp250 ribu. Padahal, berdasarkan temuannya, harga tes antigen hanya Rp50 ribu.

"Di mana keadaan perekonomian yang sedang tidak stabil dan mempersulit masyarakat kalangan menengah ke bawah untuk melakukan test swab dengan harga yang lumayan tinggi," terang Dinda kepada AKURAT.CO, Senin (28/6/2021).

Dinda menuturkan, apabila harga rapid tes antigen murah tentu banyak masyarakat secara mandiri yang mengecek kondisi kesehatannya mengenai Covid-19.

"Banyak masyarakat yang tidak melakukan test swab apabila kondisi tubuh sedang tidak fit karena tingginya harga test tersebut," ungkapnya.

"Masyarakat yang sedang sakit dan hanya menganggap sakit biasa ternyata mereka terjangkit virus COVID tetap melakukan aktivitas diluar rumah, sehingga menyebarkan virus dan membuat angka kasus COVID melonjak tinggi," sambungnya.

Dinda mengaku sudah mencoba beberapa kali melakukan pemeriksaan mulai dari rapid test hingga swab antigen. Namun, dia menyebut, biaya tes Covid-19 berbeda-beda.

"Jadi tuh kalau misalkan harganya kalau yang di sekitaran rumah ya itu masih rata-rata Rp150.000 sampai Rp200.000, tapi pintar-pintar kita nyari aja kayak misalkan saya nyari melalui aplikasi. Nah di situ tuh kan di klinik kemarin ya Rp150.000. Terus di cek tempat lain ada lagi yang lebih murah cuma Rp95.000 tapi antrenya mampus gila," ujarnya.

Dia berharap semoga fasilitas kesehatan yang menyediakan test rapid antigen maupun swab dan PCR dapat mempertimbangkan harga test tersebut. Mengingat, lanjut Dinda, saat ini angka penderita COVID-19 yang naik pesat sehingga banyak masyarakat yang was-was dan ingin memeriksan diri.

"Karena fasilitas test dari puskesmas susah didapat dan sangat lambat penanganannya," pungkasnya.

Perlu diketahui, Juru Bicara Vaksinasi Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengaku belum mengetahui informasi harga pokok tes rapid antigen Rp50 ribu sebagaimana diungkap Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi. 

"Aku ndak tahu bagaimana informasinya," kata Siti Nadia ketika dihubungi AKURAT.CO pada Senin (28/6/2021).

YLKI sebelumnya meminta harga pokok tes antigen ditinjau kembali oleh Kemenkes. Mengenai itu, Siti mengaku akan melakukan diskusi internal. Pasalnya, sebelum memutuskan harga pokok tes rapid antigen Rp250 ribu, Kemenkes sudan konsultasi ke lembaga lain.

  "Nanti kita diskusi internal ya terkait ini, mengingat kemarin ini juga sudah dikonsultasikan dengan berbagai pihak ya," imbuhnya.[]