News

Warga Sigi Keluhkan Gedung Sekolah yang Belum Juga Diperbaiki Pascagempa


Warga Sigi Keluhkan Gedung Sekolah yang Belum Juga Diperbaiki Pascagempa
Warga saat melintasi jalan yang hancur dampak dari gempa di kawasan Jalan Poros Palu-Palolo, Kec Sigi, Biromaru, desa Jonooge, Sulteng, Rabu (3/10/2018). Jalan yang mengarah ke arah Petebo dan Sigi ini hancur hingga tidak bisa dilewati kendaraan roda empat. Kawasan ini masih terisolir dari bantuan yang dibagikan pemerintah. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Gempa bumi berkekuatan 7,4 skala richter pada 28 September 2018 lalu, yang menghancurkan beberapa sekolah di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, membuat para siswa di wilayah tersebut terpaksa belajar di tenda-tenda darurat.

Tak terkecuali bagi para siswa di Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, yang hingga kini sekolahnya belum juga diperbaiki oleh pemerintah.

"Ya anak-anak masih belajar di tenda, sebab bangunan sekolah yang hancur belum juga diperbaiki kembali," kata Mery, salah satu orangtua murid di Desa Puro'o, Senin (14/1/2019).

Ia mengatakan belajar di tenda cukup memprihatinkan saat musim hujan, karena biasanya air akan masuk dalam tenda dan sangat mengganggu belajar para siswa.

"Kalau musim panas tidak ada masalah. Tapi menjadi masalah kalau hujan, sebab biasanya air masuk ke dalam tenda," ujarnya.

Dia berharap pemerintah segera memperbaiki kembali semua bangunan sekolah yang rusak akibat gempa bumi di daerah tersebut, agar proses belajar mengajar bisa kembali berjalan normal seperti sebelum adanya bencana tersebut.

Hal senada juga disampaikan Isak, salah seorang guru SD di Dataran Lindu yang sekolah tempat ia mengajar juga rusak dan murid terpaksa belajar di tenda.

"Kecamatan Lindu salah satu dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Sigi yang juga terdampak parah bencana alam gempa bumi kemarin," kata Isak.

Selain sekolah, kata Isak, banyak juga rumah penduduk dan gereja serta masjid rusak dan perlu dibangun kembali.

Di wilayah itu juga masih banyak warga yang tinggal di tenda-tenda darurat.

"Tetapi, sudah banyak yang kembali di rumahnya meski membangun tenda di halaman mereka, sebab rumah rata-rata rusak parah," ujarnya.[]