News

Wanita Afganistan Boleh Kuliah, Ini Deretan Syarat yang Ditetapkan Taliban

Di era Taliban 1996-2001, wanita dilarang sekolah maupun kuliah. Kali ini, Taliban berjanji tak akan mencegah perempuan dari pendidikan maupun pekerjaan.


Wanita Afganistan Boleh Kuliah, Ini Deretan Syarat yang Ditetapkan Taliban
Para mahasiswi bercadar mengikuti aksi dukung Taliban di Universitas Pendidikan Shaheed Rabbani pada Sabtu (11/9). (Foto: EPA) ()

AKURAT.CO Perkuliahan di universitas Afganistan akan dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. Selain itu, Taliban juga akan memperkenalkan aturan berpakaian baru.

Dilansir dari BBC, Menteri Pendidikan Tinggi Abdul Baqi Haqqani mengindikasikan perempuan akan diizinkan untuk belajar, tetapi tidak bersama lelaki. Ia juga mengumumkan tinjauan mata kuliah yang akan diajarkan kepada mahasiswa.

Pada pemerintahan Taliban 1996-2001, wanita dan anak perempuan dilarang bersekolah maupun kuliah. Kali ini, Taliban berjanji tak akan mencegah perempuan dari pendidikan maupun pekerjaan. Namun, sejak berkuasa pada 15 Agustus, mereka memerintahkan seluruh perempuan, kecuali yang bekerja di sektor kesehatan masyarakat, agar tidak bekerja hingga situasi keamanan membaik.

Pada Sabtu (11/9), Taliban mengibarkan bendera mereka di atas istana presiden, pertanda dimulainya pemerintahan mereka. Kebijakan pendidikan tinggi yang diumumkan pada Minggu (12/9) pun menandai perubahan signifikan dari praktik sebelum Taliban berkuasa. Mahasiswi harus mematuhi aturan berpakaian, sedangkan universitas adalah tempat pendidikan bersama, dengan lelaki dan perempuan belajar bersebelahan.

Baca juga: 300 Wanita Afganistan Gelar Aksi Dukung Taliban, Yakinkan Nasib Perempuan akan Lebih Baik

"Tidak ada masalah dalam mengakhiri sistem pendidikan campuran ini. Masyarakat adalah Muslim dan mereka akan menerimanya," dalih Haqqani.

Di sisi lain, masih ada pihak yang berprasangka perempuan akan didepak dari pendidikan lantaran universitas tak punya sumber daya untuk menyediakan kelas terpisah. Namun, Haqqani bersikeras bahwa ada cukup banyak dosen perempuan. Jika tak tersedia, akan dicari alternatifnya.

"Semua tergantung kapasitas universitas. Kita juga bisa menggunakan dosen pria untuk mengajar dari balik tirai atau menggunakan teknologi," imbuhnya.

Anak perempuan dan lelaki juga akan dipisahkan di SD-SMA. Aturan ini sudah lazim di seluruh Afganistan.