News

Waduh, Enam Orang ASN di Bandung Kepergok Sedang Keluyuran di Mall Saat Jam Kerja

Waduh, Enam Orang ASN di Bandung Kepergok Sedang Keluyuran di Mall Saat Jam Kerja
Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Kota Bandung Yayan Ahmad Brilyana, memberikan keterangan usai operasi disiplin, Senin (6/1/2020). (AKURAT.CO/Avila Dwi Putra)

AKURAT.CO, Enam orang aparatur sipil negara (ASN) Kota Bandung kepergok berkeliaran saat jam kerja oleh tim Gerakan Disiplin Aparatur (GDA), yang menggelar operasi di sejumlah pusat perbelanjaan di Kota Bandung, Senin (6/1/2020).

Pada operasi kali ini, tim GDA menyisir pusat perbelanjaan, yakni Bandung Indah Plaza, Bandung Electronic Centre, dan mendatangi sejumlah tempat makan. Dari enam ASN yang terjaring operasi GDA ini, diantaranya tiga orang dari lingkungan Sekretariat Daerah dan sisanya Dinas Pendidikan Kota Bandung.

Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Kota Bandung Yayan Ahmad Brilyana menerangkan, dalam aturan sudah tertera jelas, waktu kerja dimulai pukul 07.45-16.30. ASN pun telah diberikan waktu cukup senggang untuk istirahat ataupun keperluan lainnya, yakni pukul 12.00-13.00.

baca juga:

“Mereka harusnya memberikan pelayanan kepada masyarakat sebaik-baiknya. Bayangkan masyarakat datang jauh, kemudian ASN-nya tidak ada. Bukan tidak boleh ada keperluan, kalau mau keluar ya silahkan tapi ada waktunya juga,” ucap Yayan.

Yayan kembali mengingatkan, para ASN harus mengutamakan pelayanan kepada masyarakat. Hal itu menjadi bagian dari pertanggungjawaban pemerintah terhadap rakyatnya.

Kasus ini juga menjadi perhatian khusus dari Inspektorat Kota Bandung. Inspektur Kota Bandung Fajar Kurniawan yang ikut dalam dalam operasi kali ini, menyesalkan masih ada ASN yang terjaring.

“Kami mengharapkan kedepannya dari dinas atau instansi memberikan treatment kepada pegawainya,” tegas Fajar. 

Fajar memastikan, operasi GDA akan terus digelar secara berkala. Pasalnya, Pemerintah Kota Bandung ingin kinerja ASN terus meningkat, terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Karena menjadi bagian dari sosiailisasi tentang bagaimana disiplin kerja yag baik. Kami ‘door to door’ ke OPD. Ini untuk membentuk pemahaman bahwa jam kerja bukan kebutuhan tapi harus menjadikan bagian dari dirinya. Itu agar mereka memaksimalkan proses kerja,” pungkasnya.[]