Ekonomi

Waduh! Ada Risiko Target Penerimaan Perpajakan Rp100 Triliun Tak Tercapai

defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 akan bergantung pada pengendalian pandemi Covid-19


Waduh! Ada Risiko Target Penerimaan Perpajakan Rp100 Triliun Tak Tercapai
Ilustrasi Pencatatan Pajak, Perpajakan (Luqman Hakim Naba)

AKURAT.CO Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 akan bergantung pada pengendalian pandemi Covid-19.

Apabila pandemi Covid-19 belum terkendali, aktivitas perekonomian akan terhambat sehingga berdampak terhadap penerimaan perpajakan. Defisit pun berpotensi lebih lebar dari target yang sebesar 4,85% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

“Apakah strategi pemerintah mendorong peningkatan pendapatan perpajakan sampai Rp100 triliun, ini yang menjadi tanda tanya, yang kemudian bisa jadi ada risiko target itu tidak tercapai,” kata Faisal di Jakarta, Rabu (18/8/2021).

Dilansir dari Antara, dalam RUU APBN 2022, pemerintah merencanakan defisit anggaran sebesar 4,85% dari PDB. Nilai ini diambil sebagai langkah untuk mencapai konsolidasi fiskal, mengingat pada 2023 mendatang defisit anggaran diharapkan dapat kembali ke level paling tinggi 3% dari PDB.

Menurut Faisal, penyempitan defisit APBN 2022 akan dilakukan pemerintah dengan mendorong peningkatan pendapatan perpajakan hingga sekitar Rp100 triliun. Sementara, itu belanja diturunkan lebih sedikit yakni sekitar Rp42 triliun.

“Pada 2022, pemerintah ingin mendorong pemungutan pajak yang lebih banyak. Ini yang mungkin menjadi tanda tanya dari sisi kesesuaiannya dengan kondisi Covid-19,” katanya.

Dalam RUU APBN 2022, menurutnya, pemerintah memandang pandemi Covid-19 akan sudah tertangani sehingga pertunbuhan ekonomi pun ditarget berkisar 5-5,5%.

“Tapi bagaimana kalau kemudian pandemi ini masih terjadi? Karena kalau melihat sampai sekarang vaksinasi masih rendah dan pelonggaran mobilitas sedikit demi sedikit, artinya kemungkinan itu tetap ada di 2022,” imbuhnya.

Karena itu, pemerintah perlu memastikan bahwa pandemi Covid-19 bisa teratasi pada tahun 2022 mendatang. Dengan demikian aktivitas perekonomian tidak kembali terhambat, negara mendapatkan pendapatan lebih banyak, dan target defisit anggaran yang sebesar 4,85% dapat tercapai.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, pemerintah menetapkan target defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 sebesar Rp868 triliun. Angka tersebut setara dengan 4,85% terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Rencana defsit tahun 2022 memiliki arti penting sebagai langkah untuk mencapai konsolidasi fiskal, mengingat tahun 2023 defisit anggaran diharapkan dapat kembali ke level paling tinggi 3% terhadap PDB,” Jokowi dalam Pridato Presiden RI dalam Rangka Penyampaian RUU Tentang APBN TA 2022, Senin (16/8/2021).

Jokowi menyampaikan, defisit anggaran tahun 2022 akan dibiayai dengan memanfaatkan sumber-sumber pembiayaan yang aman dan dikelola secara hati-hati, dengan menjaga keberlanjutan fiskal.[]

Sumber: Antara