Rahmah

Waduh! Abu Nawas Bunuh Diri dengan Meminum Madu, Bagaimana Bisa? Begini Kisahnya

Suatu ketika, tuan majikan Abu Nawas datang dengan membawa sebuah kendi yang berisi madu.

Waduh! Abu Nawas Bunuh Diri dengan Meminum Madu, Bagaimana Bisa? Begini Kisahnya
Cerita Abu Nawas (ISTIMEWA)

AKURAT.CO  Kecerdikan seorang Abu Nawas tentu sudah tidak diragukan lagi. Selain cerdik, Abu Nawas juga memiliki sifat keterampilan yang luar biasa, salah satunya yaitu pandai menjahit. 

Sebelum menjadi orang kepercayaan Raja Harun Ar-Rasyd, Abu Nawas pernah bekerja pada seorang tuan di toko jahit khusus pakaian.

Abu Nawas merupakan tipikal pekerja keras, ulet dan rajin, sehingga ia sangat mudah dipercayakan oleh tuan majikannya. Abu Nawas dicap sebagai pekerja teladan ditempat kerjanya.

baca juga:

Akan tetapi, tuan majikan di tempat Abu Nawas bekerja itu merupakan orang yang sangat pelit. Tuan itu tidak pernah memberikan bonus atau perhatian meski Abu Nawas adalah pekerja teladan yang rajin bekerja.

Tak jarang, tuan majikan Abu Nawas sering membawakan banyak makanan ke tempat kerja, tetapi hanya untuk dimakan sendiri saja dan tidak pernah mau membagikan sedikitpun untuk para pekerjanya. Lama kelamaan, sifat pelit tuannya membuat Abu Nawas menjadi jengkel.

Suatu ketika, tuan majikan Abu Nawas datang dengan membawa sebuah kendi yang berisi madu. Melihat majikannya datang dengan membawa sebuah kendi, Abu Nawas langsung menghampirinya dan berkata,

"Tuan! Untuk apa kendi itu? Bolehkah aku meminta isinya?" tanya Abu Nawas mengharap.

Mendengar perkataan Abu Nawas, membuat tuan itu khawatir jika Abu Nawas akan meminum madunya, si tuan pun terpaksa membohongi Abu Nawas dengan mengatakan,

"Wahai Abu Nawas!! Kendi ini berisi racun dan aku tidak mau nanti kamu mati karena meminumnya," jawab majikannya.

Abu Nawas hanya mengangguk, padahal ia mengetahui jika tuannya itu berbohong, ia juga mengetahui jika isi kendi itu adalah madu yang nikmat, karena aromanya sempat tercium olehnya. Abu Nawas pun mulai memutar otak.

Tidak lama setelah itu, tuan majikan tempat Abu Nawas bekerja pergi untuk suatu keperluan. Karena merasa aman dari gangguan Abu Nawas, ia pun meninggalkan kendi berisi madu itu begitu saja di atas mejanya.

Melihat hal itu, membuat Abu Nawas untuk tidak membuang-buang kesempatan, ia pun berusaha menjual sepotong pakaian dan kemudian membeli sebungkus roti yang akan dimakan dengan madu tuannya itu.

Kemudian setelah berhasil membeli roti, Abu Nawas langsung melahapnya menggunakan madu milik majikannya. Ia terus memakan dengan lahap dan tanpa sadar sampai menghabiskan semua madu didalam kendi itu.

Dalam kondisi kekenyangan, Abu Nawas kemudian meletakkan kendi itu pada tempat semula dan ia kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa merasa bersalah. Tidak berapa lama kemudian, majikannya pun kembali dan juga dengan membawa sebungkus roti.

Ia langsung menghampiri mejanya dengan niat akan mengambil kendi itu. Namun yang terjadi, alangkah terkejutnya tuan majikan itu ketika mendapati kendinya sudah dalam keadaan kosong. Hal lain juga ditemukan, bahwa ia mengetahui sepotong pakaian ditokonya telah hilang tanpa adanya laporan. Ia kemudian berbicara kepada diri sendiri, "Ini pasti ulah Abu Nawas!!"

Tuan majikan langsung menghampiri Abu Nawas yang sedang sibuk menjahit pakaian, ia kemudian berkata,

"Hai Abu Nawas, apa sebenarnya yang telah terjadi, mengapa isi kendi ini habis dan sepotong pakaian telah hilang?" tanya tuan dengan kesal.

"Maaf, tuan !! tadi sewaktu tuan pergi, ada sekelompok pencuri datang mengambil sepotong pakaian," kata Abu Nawas.

"Lantas apa yang kamu lakukan terhadap pencuri itu?" tanya tuan lagi.

"Aku ketakutan dan tidak bisa berbuat apa-apa," kata Abu Nawas berpura-pura ketakutan.

"Lalu mengapa isi kendiku hilang, apakah juga diminum oleh pencuri itu?" tanya tuan majikan.

"Tidak, tuan," jawab Abu Nawas dengan polosnya.

"Lantas siapa yang telah meminumnya?" tanya tuan lagi.

"Sekali lagi mohon maaf Tuan majikan, karena takut akan dimarahi oleh Tuan, maka aku putuskan untuk memilih bunuh diri saja menggunakan racun yang ada dalam kendi itu, hamba pikir, hamba akan mati, tapi ajal hamba belum sampai tuan!!," jelas Abu Nawas.

Mendengar pengakuan jujur dan keahlian akal pikir Abu Nawas, membuat tuan majikan yang semula akan marah akhirnya mengurungkan niatnya. Ia sadar jika semua itu karena kesalahannya yang telah pelit dan membohongi pekerjanya.[]