Ekonomi

Waduh! 10 Ribu Warteg Cabut dari Jakarta, Gulung Tikar hingga Alih Profesi

Pandemi COVID-19 membuat sekitar 10 ribu pengusaha warung tegal alias warteg terpaksa harus meninggalkan Jakarta dan pindah ke daerah penyangga seperti Botabek.


Waduh! 10 Ribu Warteg Cabut dari Jakarta, Gulung Tikar hingga Alih Profesi
Pekerja melayani pembeli di salah satu warteg di Jakarta, Senin (20/7/2020). Pemerintah meluncurkan penjaminan kredit modal kerja untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam rangka mempercepat pemulihan ekonomi nasional. PT Jamkrindo dan PT Askrindo telah ditugaskan melalui Keputusan Menteri Keuangan untuk menjamin pelaku usaha UMKM atas kredit modal kerja. (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Pandemi COVID-19 membuat sekitar 10 ribu pengusaha warung tegal alias warteg terpaksa harus meninggalkan Jakarta dan pindah ke daerah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Hal ini dikarenakan mereka tak mampu lagi berjualan di wilayah ibu kota.

Ketua Koordinator Komunitas Warung Tegal Nusantara (Kowantara) Mukroni mengatakan, biaya sewa yang mahal serta banyak yang terkena PHK membuat banyak warteg terpaksa harus memindahkan usahanya ke daerah lain.

"Menurut data dari kami ada sekitar 40 ribu warteg di Jabodetabek. Sekitar 25 persen atau 10 ribu sudah terimbas sehingga mereka mencari alternatif di daerah pinggiran untuk sewa yang lebih murah," katanya saat dihubungi Akurat.co, Jakarta, Jumat (13/11/2020).

Ia menerangkan, harga sewa bangunan di Jakarta untuk warteg sangat mahal yakni sekitar Rp80 juta hingga Rp100 juta per tahun. Dengan daya beli menurun serta banyaknya PHK, maka biaya tersebut tak bisa terjangkau lagi untuk warteg bertahan lama di Jakarta.

Selain pindah, katanya, banyak juga warteg yang mulai gulung tikar. Bahkan banyak dari mereka yang berlaih profesi hingga pulang ke kampung halamannya.

Bahkan, tutur Mukroni, mereka yang telah memindahkan usahanya ke daerah pinggiran juga banyak yang sudah tak mampu bertahan.

"Sampai sekarang belum ada kejelasan kapan pandemi berakhir, akhirnya banyak pindah lokasi, bahkan tak tahu apakah bertahan sebab daya beli sudah menurun, akhirnya banyak juga yang tutup, bahkan sampai pindah profesi," katanya. []