News

Wacana Tuntut Mati Koruptor, Pengamat Ungkit Isu Identitas Ganda Jaksa Agung

Wacana penerapan tuntutan hukuman mati bagi koruptor oleh Jaksa Agung RI ST Burhanuddin dinilai belum efektif akan memberikan efek jera para koruptor.


Wacana Tuntut Mati Koruptor, Pengamat Ungkit Isu Identitas Ganda Jaksa Agung
Jaksa Agung RI Burhanuddin (Dok. Puspenkum Kejagung)

AKURAT.CO, Wacana penerapan tuntutan hukuman mati bagi koruptor yang disampaikan oleh Jaksa Agung RI ST Burhanuddin dinilai belum efektif akan memberikan efek jera kepada para koruptor. Apalagi wacana penerapan hukuman mati diduga mengalihkan isu identitas akademik ganda.

Pengamat Kejaksaan Fajar Trio mengatakan, dirinya setuju dengan ide tersebut. Namun, harus diimbangi dengan kualitas dan profesionalitas serta integritas penegakan hukum yang dilakukan kejaksaan.

"Jika kondisi penegakan hukum masih banyak transaksional, ya enggak adil rasanya ada hukuman mati. Cina saja yang sudah menerapkan hukuman mati, koruptornya masih banyak berkeliaran. Artinya penghukuman mati untuk koruptor belum efektif," kata Fajar dalam keterangannya diterima AKURAT.CO, Jakarta, Sabtu (30/10/2021).

Ia pun menantang Jaksa Agung ST Burhanuddin, untuk mencoba menghukum mati anak buahnya yang terlibat kasus korupsi. Semisal Pinangki, yang jelas-jelas merusak marwah kejaksaan. Atau para penyidik ternyata setelah dilakukan eksaminasi terbukti melakukan kesalahan atau penyalahgunaan kewenangan, harus diseret ke meja hijau.

"Berani enggak dia? Bahkan jika dugaan informasi palsu soal ijazah dan identitas ganda yang ramai diperbincangkan publik itu benar, Jaksa Agung dihukum mati gitu, berani enggak? Karena jika dugaan atas informasi identitas dan ijazah ganda terbukti benar, maka ST Burhanudin sudah mencederai kepercayaan Presiden, rakyat dan penegakan hukum di Indonesia," tuturnya.

Sementara itu, pengamat politik yang juga mantan politikus Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean berharap Jaksa Agung terbuka soal isu dugaan identitas ganda tersebut.

"Ini kan memang isu yang sudah muncul beberapa lama ya, saya pun sudah mendengarnya beberapa kali dan banyak juga yang bertanya-tanya ke saya terkait ini (identitas ganda). Bahkan gelar-gelar akademik yang beliau peroleh saat ini menjadi pertanyaan," kata Ferdinand.

Atas kondisi tersebut, ia pun menyarankan agar Jaksa Agung menjelaskan secara terbuka kepada publik terkait dugaan identitas ganda hingga latar belakang akademiknya. Pasalnya, jika dugaan itu terbukti benar, maka ST Burhanuddin sudah tidak jujur kepada Presiden bahkan rakyat Indonesia.

"Ya tentu kalau apa yang menjadi isu selama ini terbukti, saya pikir saudara Burhanudin sebagai Jaksa Agung yang harus dengan legowo mengundurkan diri atau diganti oleh Presiden itu mutlak. Karena sudah ada ketidakjujuran di sana, ya kan. Kalau sudah tidak ada kejujuran memang harusnya beliau diganti, harus mengundurkan diri," ujarnya.