News

Vulkanolog Sebut Erupsi Semeru Dipicu Curah Hujan Tinggi

Wahyudi mengatakan, tingginya curah hujan memicu bibir lava runtuh sehingga terjadi erupsi


Vulkanolog Sebut Erupsi Semeru Dipicu Curah Hujan Tinggi
Semeru erupsi (Instagram)

AKURAT.CO, Pakar Vulkanologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Wahyudi menyebut erupsi Gunung Semeru disebabkan faktor eksternal yakni curah hujan tinggi yang terjadi selama beberapa waktu terakhir.

Wahyudi mengatakan, tingginya curah hujan memicu bibir lava runtuh sehingga terjadi erupsi. Uap bertekanan tinggi yang muncul dari proses perubahan suhu turut memicu longsoran material yang kemudian jadi awan panas guguran.

"Interpretasi kita mengarah ke situ adanya trigger dari curah hujan yang tinggi, kubah lava yang sudah tidak stabil dipicu hadirnya curah hujan menyebabkan adanya longsor yang menyebabkan terjadinya awan panas tadi," kata Wahyudi di Auditorium FMIPA UGM, Sleman, Senin (6/12/2021).

Wahyudi melanjutkan, guguran awan panas Semeru pada 4 Desember 2021 kemarin memiliki jarak jangkau 11 kilometer. Atau lebih dari rekomendasi jarak aman yang hanya 5 kilometer saja.

Menurut Wahyudi, penghitungan volume kubah lava Gunung Semeru memungkinkan digunakan untuk memprediksi jarak luncur awan panas gunung itu saat meletus.

"Seharusnya memang bisa dihitung volumenya, apalagi sudah ada teknologi image sehingga bisa diperkirakan jarak luncurannya. Ini yang kita bertanya-tanya kenapa bisa miss prediction," tuturnya.

Di samping kubah lava, kata Wahyudi, informasi tentang jumlah material di puncak Gunung Semeru juga belum tersedia.

Sementara, kata Wahyudi, informasi mengenai data kegempaan di Gunung Semeru yang meningkat selama 90 hari terakhir juga bisa dipakai mengidentifikasi gejala awal atau prekursor letusan.

Wahyudi menambahkan, aktivitas vulkanik gunung api tidak sama dengan gempa bumi yang prekursornya tidak bisa diketahui.

"Sejak 90 hari terakhir itu ada peningkatan kegempaan. Jadi rata-rata di atas 50 kali per hari dalam 90 hari terakhir, bahkan ada yang sampai mencapai 100 kali per hari. Ini sebenarnya sudah tanda-tanda, bisa dijadikan prekursor terjadinya erupsi," paparnya.

Seismolog UGM Ade Anggraini menambahkan, rententan gempa letusan di Semeru mengindikasikan material vulkanik telah menumpuk di permukaan gunung sebelum erupsi 4 Desember 2021. 

Ketiadaan gempa vulkanik dalam (VTA) dan gempa vulkanik dangkal (VTB) berdasarkan laporan PVMBG menunjukkan bahwa memang tidak ada suplai material baru dari perut gunung.

"Kalau kemudian terjadi awan panas, maka dari data tersebut ketidakadaan VTA dan VTB tetapi dominasi adalah gempa erupsi. Jadi benar-benar penumpukan material di permukaan lalu terjadi awan panas maka analisisnya mengarah pada awan panas disebabkan oleh runtuhnya kubah lava," jelasnya. []