Olahraga

Virus Corona Buat Jepang Buka Kemungkinan Minimalisir Kegiatan Kirab Obor Olimpiade


Virus Corona Buat Jepang Buka Kemungkinan Minimalisir Kegiatan Kirab Obor Olimpiade
Aktris asal Jepang, Satomi Ishihara, melakukan geladi resik kirab obor Olimpade Tokyo 2020 di Kota Hamura, Tokyo, Jepang. ( REUTERS/Athit Perawongmetha)

AKURAT.CO, Panitia Olimpiade Tokyo 2020 tengah mempertimbangkan untuk mengurangi berbagai kegiatan pada acara kirab Obor karena kekhawatiran atas merebaknya wabah virus corona. Ketua eksekutif Tokyo 2020, Toshiro Muto mengatakan beberapa bagian dari kirab Obor dapat dikurangi sebagai langkah untuk mencegah penyebaran virus.

Menurutnya, menurunkan jumlah peserta upacara keberangkatan dan kedatangan kirab obor bisa menjadi salah satu langkah yang ditetapkan oleh Tokyo 2020 di tengah kekhawatiran akan virus tersebut.

"Perampingan adalah salah satu pendekatan yang bisa kita pertimbangkan. Menyatukan penonton dalam jumlah besar bisa meningkatkan risiko infeksi," kata Muto seperti dikutip Antara.

Pun begitu, Muto menegaskan bahwa kibab obor yang rencananya akan dimulai 29 Maret di daerah yang pernah dilanda bencana di Fukushima, tidak akan dibatalkan.

Sebelumnya, Anggota senior Komite Olimpiade Internasional (IOC), Richard Pound, mengatakan Olimpiade bisa dibatalkan jika virus, yang diberi nama resmi COVID-19 oleh Organisasi Kesehatan Dunia, tidak terkendali saat itu. Namun, keputusan resmi belum akan diambil sampai akhir Mei nanti.

Menanggapi komentar Pound, Menteri Olimpiade Jepang, Seiko Hashimoto, menepis kekhawatiran dan menegaskan bahwa Olimpiade, yang dijadwalkan akan dimulai pada 24 Juli, akan berjalan sesuai rencana.

"Yang akan kami lakukan adalah mempersiapkan diri untuk menjadi tuan rumah Olimpiade tanpa rasa cemas dan memuaskan IOC," jelas Hashimoto.

Wabah tersebut telah memaksa pembatalan, penundaan, atau relokasi puluhan acara, termasuk Kejuaraan Dunia dan kualifikasi Olimpiade.

Ada 172 kasus infeksi virus corona di Jepang, yang sejauh ini melaporkan dua kematian. Empat lainnya tewas di kapal pesiar yang telah dikarantina di Yokohama sejak 3 Februari, meskipun Jepang tidak menghitung kematian ini dalam penghitungan keseluruhannya.[]