News

Viral Video Gadis ABG Maki Polisi Usai Satgas COVID-19 Bubarkan Dugem di Sleman

AH dan beberapa rekannya memaki petugas .lantaran tak terima saat dugem dibubarkan Satgas COVID-19. Ia mengaku sedang dalam pengaruh minuman beralkohol.


Viral Video Gadis ABG Maki Polisi Usai Satgas COVID-19 Bubarkan Dugem di Sleman
Polisi menunjukkan tangkapan layar dari video yang viral di media sosial, Selasa (22/6/2021). (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO, Seorang gadis berinisial AH (16), warga Mlati, Kabupaten Sleman diperiksa jajaran Polda DIY usai mencaci kepolisian lantaran tak terima acara dugem yang diikutinya dibubarkan Satgas COVID-19. Serangkaian video aksi AH sebelumnya sempat viral di media sosial beberapa hari lalu.

Video tersebut diunggah melalui akun Instagram milik AH, @_alyasoyyy sebelum diviralkan akun-akun lainnya.

Video itu mempertontonkan kekesalan beberapa perempuan, termasuk AH, lantaran tempat hiburan malam yang mereka sambangi diminta tutup oleh pihak berwenang. Musababnya, didapati pelanggaran jam operasional serta protokol kesehatan pencegahan penularan COVID-19. 

Dalam video tersebut, dibubuhi tulisan umpatan kepada kepolisian. Sementara para perempuan pada video terekam mengucapkan kata-kata tidak pantas.

Sementara video lain memperlihatkan para perempuan tersebut mengendarai sepeda motornya. Salah seorang dari mereka mengucapkan kata-kata tak senonoh.

Wadireskrimsus Polda DIY AKBP FX. Endriadi mengatakan, pihaknya melalui Subdit Tindak Pidana Siber bergerak cepat menindaklanjuti tersebarnya video tersebut. Usai dilakukan penelusuran, diperoleh informasi waktu dan lokasi pengambilan gambar.

Dikatakan Endriadi, video tersebut diambil di sebuah tempat hiburan malam di sekitar Jalan Magelang, Mlati, Sleman, pada 20 Juni 2021 lalu.

"Tim kami yang memang dibentuk virtual police dan patroli cyber terkait dengan konten yang ada di akun yang bermuatan asusila tadi itu berhasil kita lakukan penyelidikan maupun penelusuran," kata Endriadi saat konferensi pers di Mapolda DIY, Sleman, Selasa (22/6/2021).

Sehari setelahnya, pihaknya berhasil memintai keterangan kepada pihak-pihak yang bersangkutan dalam video tersebut pada Senin (21/6/2021) kemarin. Mereka adalah AH, dan ketiga rekannya sebagai saksi.

Hasil pengumpulan keterangan sementara, diperoleh informasi bahwa benar AH dan beberapa rekannya merupakan perempuan-perempuan pada video tersebut. Mereka berbuat demikian lantaran berada di bawah pengaruh minuman beralkohol.

"Mereka lakukan itu karena terpengaruh ketidaksengajaan, pengakuannya terpengaruh oleh minum minuman keras," bebernya. 

Tes urine pun diberlakukan guna memastikan ada tidaknya pengaruh obat-obatan terlarang dan hasilnya negatif. "Jadi murni perbuatan mereka pengaruh minuman-minuman keras mungkin di tempat hiburan malam tersebut," sambungnya. 

"Sampai saat ini kita masih terus mendalami proses penyelidikan. Kemudian proses preemtif juga dan berkoordinasi dengan Bapas (Balai Pemasyarakatan) karena si peng-upload (AH) ini masih berusia di bawah umur," terang Endriadi.

Sementara Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Yuliyanto mengatakan, AH berpotensi melanggar UU ITE menyusul ditemukannya unsur asusila hingga ujaran kebencian pada video yang ia unggah.

AH diduga melanggar Pasal 27 ayat 1 Undang-undang nomor 19 Tahun 2016 yaitu atas perubahan dari undang-undang nomor 11 Tahun 2008 tentang Transaksi Elektronik. Utamanya terkait kesusilaan dan penghinaan. 

"Di dalam video tersebut ada suara atau ada audio yang menurut penilaian kami, menurut penilaian khalayak umum, itu tidak pantas diucapkan oleh seorang gadis yang umurnya masih 16 tahun," jelas Yuli.

"Jadi dari video yang viral tersebut (pelanggaran) baik itu yang ada di dalam ruangan maupun yang ada di jalanan," lanjutnya.

Potensi pelanggaran lain juga terlihat pada salah satu video yang diunggah AH. Yakni, melanggar protokol kesehatan dengan tidak mengenakan masker atau menjaga jarak fisik.

"Yang bersangkutan tidak menggunakan masker kemudian situasinya juga cara berkerumun dan lain sebagainya," imbuhnya.

Kendati, kata Yuli, pihaknya masih memberi kesempatan kepada AH agar tidak mengulangi perbuatannya.

"Polda DIY belum memutuskan untuk membuat laporan polisi model A. Bisa saja Polri membuat laporan polisi model A. Namun sampai saat ini kita belum melaksanakan atau mengambil keputusan untuk membuat laporan polisi model A," paparnya.

Keputusan ini diambil dengan maksud supaya yang bersangkutan menyadari potensi pelanggaran yang telah dilakukan. Di satu sisi menjadi pembelajaran bagi publik mengenai etika bermedia sosial.

"Ada etika bergaul di media sosial yang itu potensi untuk terjadi tindak pidana undang-undang ITE dan lain sebagainya. Maka semaksimal mungkin kita melakukan proses atau lakukan tahapan-tahapan di virtual police tersebut," ungkapnya.

Namun bukan berarti menutup kemungkinan laporan polisi model A untuk dibuat. Pihaknya masih akan melihat perkembangan selanjutnya dari kasus ini.

"Bisa jadi ketika nanti perkembangan hari-hari berikut memungkinkan untuk membuat laporan polisi model A bisa saja, tetapi sekali lagi saat ini kita belum memutuskan untuk membuat laporan polisi model A," pungkasnya.[]