Lifestyle

Viral Dugaan Pelecehan Seksual Pada Anak, Orang Tua Diimbau Lakukan Pengawasan Melekat

Seorang anak di Gresik, Jawa Timur diduga mengalami pelecehan seksual


Viral Dugaan Pelecehan Seksual Pada Anak, Orang Tua Diimbau Lakukan Pengawasan Melekat
Ilustrasi - Cegah kekerasan atau pelecehan seksual pada anak dengan pengawasan melekat (Freepik/bedneyimages)

AKURAT.CO Kekerasan atau pelecehan seksual masih menjadi masalah besar di Indonesia. Lagi-lagi, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan berita pelecehan seksual. 

Ya, seorang anak di Gresik, Jawa Timur diduga mengalami pelecehan seksual. Dari rekaman CCTV yang viral, seorang anak perempuan dicium secara paksa oleh seorang pria berkemeja putih di depan sebuah warung di Desa Mriyunan, Sidayu, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. 

Awalnya, pria tersebut tampak berdiri di depan warung setelah berbelanja. Kemudian, datang seorang perempuan dewasa dan anak perempuan. Perempuan dewasa masuk ke dalam warung, sementara anak itu berdiri di depan, di dekat pria tersebut. Saat itulah pria tersebut melancarkan aksinya.

baca juga:

Pria tersebut mengawasi keadaan sekitar, melongok ke dalam warung seakan memastikan  tidak ada yang melihat. 

Pria itu kemudian menarik tangan si anak perempuan untuk berada di dekatnya. Dia memeluk dan mencium anak perempuan tersebut.

Setelah dicium, anak perempuan itu mengusap mulutnya. Namun pria itu kembali mencium  anak perempuan itu, lalu pergi. 

Kepala Bidang Data dan Informasi Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Jawa Timur Isa Anshori mengimbau para orang tua untuk mengawasi anak secara lebih melekat di tengah maraknya aksi pelecehan seksual.

Apalagi berdasarkan catatan LPAI pelaku alias predator anak biasanya adalah orang-orang yang terdekat. 

Selain itu, penting juga untuk mengajarkan anak cara melindungi diri. Hal paling sederhana yang bisa diajarkan adalah berani berkata "tidak". 

"Anak-anak kita itu kan tidak diajari untuk berkata tidak terhadap orang yang tidak dikenal. Ini kan persoalan sebenarnya. Anak-anak kita itu jika ada orang lain yang dianggap baik, mereka akan mengikuti apa yang diperintahkan orang itu," kata Isa Anshori, melansir Detik, Jumat (24/6/2022). 

"Menurut saya sebagai tindak pencegahan utama, orang tua harus waskat, ya, pengawasannya harus melekat. Enggak bisa anak ketika ada orang lain, siapa pun dia, kemudian dilepas sementara orang tuanya sibuk dengan urusannya sendiri," tegasnya.

Lebih lanjut, Isa Anshori mengimbau masyarakat untuk bersama-sama mencegah aksi kekerasan seksual. Ketika masyarakat aktif dan peduli, predator seksual akan sulit untuk melakukan aksi kejinya. 

"Kedua, enggak mungkin kalau itu tidak melibatkan masyarakat. Harus ada keterlibatan masyarakat dalam rangka mencegah terjadinya kekerasan seksual. Menurut saya kalau itu tidak ada maka akan mempermudah para predator itu untuk melakukan aksinya," ujarnya.

Adapun Polsek Sidayu diketahui telah mendatangi warung dan rumah keluarga korban. Menurut keterangan Kapolsek Sidayu Khairul Alam, keluarga tidak mempermasalahkan kejadian tersebut. Selain itu, Khairul Alam mengatakan bahwa aksi pria tersebut tidak termasuk pelecehan seksual. 

“Menurut saya, namanya pelecehan seksual itu dia buka baju. Nah, kriteria itu. Dia (anak korban pelecehan di Gresik) itu juga enggak nangis. Kalau nangis kan waktu itu seketika juga orang tuanya tahu. Menurut saya, (pelaku]) tidak melakukan pelecehan,” kata Khairul 

"Makanya saya bingung, yang nyebar video ini siapa. Sedangkan orang tuanya nggak mempermasalahkan," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Advokasi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta Nelson Nikodemus Simamora menyebut, tindakan pria dalam video itu sudah mengarah ke pencabulan dengan mencium paksa, mengutip Vice.

Menurutnya, pelaku seharusnya bisa dijerat UU 35/2014 tentang Perlindungan Anak Pasal 82 ayat 1 juncto Pasal 76E dengan pidana 15 tahun penjara dan denda Rp15 miliar.

Nelson juga menegaskan bahwa berdasarkan UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual  (TPKS) yang baru disahkan, pada Pasal 12 ayat 2 disebutkan “Pelecehan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat 2 huruf a adalah delik aduan, kecuali jika dilakukan terhadap anak, penyandang disabilitas, dan anak dengan disabilitas.[]