Ekonomi

Utang Tembus Rp31,9 T, Garuda Indonesia Akankah Selamat?


Utang Tembus Rp31,9 T, Garuda Indonesia Akankah Selamat?
Petugas Garuda Indonesia Maintenance Facilities (GMF AeroAsia) melakukan pemeriksaan pesawat di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, Senin (30/7/2018). PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) merampungkan sekuritisasi pendapatan penerbangan rute Timur Tengah senilai Rp 2 triliun. Sekuritisasi tersebut dikemas dalam kontrak investasi kolektif efek beragun aset (KIK-EBA) yang terdiri atas kelas A sebesar Rp 1,8 triliun dan kelas B Rp 200 miliar. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Manajemen PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menyampaikan total saldo utang usaha beserta pinjaman perseroan per 1 Juli 2020 mencapai USD2,2 miliar atau Rp31,9 triliun.

“Saldo utang usaha dan pinjaman bank total 1 Juli 2020 2,2 miliar dolar AS,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Selasa (14/7/2020).

Irfan merincikan USD2,2 miliar itu diantaranya USD905 juta pinjaman jangka pendek dan USD645 juta pinjaman jangka panjang perseroan.

“Dari 645 juta dolar AS ada pinjaman sukuk 500 juta dolar AS yang sudah kita negosiasi dan extend (perpanjang) selama tiga tahun yang seharusnya jatuh tempo 3 Juni 2020, menjadi 3 Juni 2023,” tuturnya.

Sementara itu, untuk arus kas (cash flow) yang tersisa di perusahaan hanya 14,5 juta dolar AS atau Rp210 miliar. Untuk itu, Irfan selain menegosiasi pinjaman yang jatuh tempo juga merestrukturisasi sewa pesawat untuk menurunkan harga pesawat.

Di sisi lain, lanjut dia, perusahaan juga melakukan rekonsiliasi personalia 800 pegawai yang berstatus Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) diberikan cuti luar tanggungan (unpaid leave).

Irfan menambahkan perusahaan juga melakukan pensiun dini, dimana pegawai yang berusia di atas 45 tahun diperbolehkan untuk mengambil pensiun. 

“Sampai saat ini hampir 400 orang yang bersedia secara sukarela menerima program pensiun dini,” imbuhnya.

Selain itu juga adanya pemotongan gaji 10 hingga 50 persen, baik dari level staf, jajaran direksi maupun komersial. Dimana semakin tinggi jabatannya pemotongan gaji (take home pay) semakin besar.

“Kemudian kita melakukan percepatan kontrak terhadap pilot, kontrak yang kita istilahkan dengan PKWT, kita selesaikan lebih dini, kita bayarkan hak-haknya sekitar 135 orang,” katanya.

Irfan menuturkan dari efisiensi yang dilakukan di internal perusahaan, pihaknya berharap bisa menghemat hingga 67 juta dolar AS. Selain itu, mengatakan pihaknya juga akan memaksimalkan penerbangan kargo dan sewa. Pada Selasa (14/7) terdapat 10 penerbangan khusus yang diisi hanya kargo.

“Kita tidak punya pesawat khusus kargo tapi ada izin Kemenhub, sehingga kita bisa bawa barang-barang kargo di atas mesin pesawat asal berat tidak lebih 70 kg. Kita juga melakukan penundaan pembayaran kepada pemasok jasa, avtur, kebandarudaraan,” tukasnya.[]

Prabawati Sriningrum

https://akurat.co