Ekonomi

Utang Luar Negeri RI Menumpuk Swasta Malah Melorot, Ekonomi Ungkap Bahayanya!

Ekonom Bhima Yudhistira mengomentari soal utang luar negeri Indonesia pada Agutus 2021 yang tumbuh 2,7 persen menjadi US$423,5 miliar


Utang Luar Negeri RI Menumpuk Swasta Malah Melorot, Ekonomi Ungkap Bahayanya!
Ilustrasi utang luar negeri pemerintah (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Ekonom Bhima Yudhistira menyatakan soal utang luar negeri posisi Agustus 2021 yang dirilis Bank Indonesia. Ia menilai loyonya utang luar negeri swasta, lantaran sepanjang Agustus 2021 dampak lonjakan kasus Covid-19 sangat terasa disemua sektor usaha. 

"Misalnya secara total utang luar negeri disektor pertanian itu turun -0,39 persen secara tahunan, industri pengolahan -0,64 persen," ujarnya kepada Akurat.co, Sabtu (16/10/2021). 

Bhima pun memperkirakan meskipun pada bulan September terjadi kenaikan utang luar negeri swasta angkanya akan sangat terbatas. Mengingat, pemulihan tidak merata disemua sektor. 

"Bank juga masih enggan menyalurkan kredit karena risiko masih tinggi sehingga penerbitan utang baru nya lambat," imbuhnya.

Oleh sebab itu, pertumbuhan utang luar negeri bank swasta anjlok -3,14 persen secara year-on-year. Menurutnya, utang bank akan naik sejalan dengan menurunnya risiko kredit macet di korporasi dan retail.

Namun, lanjutnya, yang patut diawasi yaitu penurunan utang luar negeri swasta yang berbanding terbalik dengan kenaikan utang luar negeri pemerintah.

"Kalau pemerintah utangnya naik, tapi swasta loyo maka kemampuan pembayaran bunga utangnya juga bermasalah. Swasta akan menyumbang devisa ekspor, dan penerimaan valas lain untuk topang kemampuan bayar utang berbentuk kurs asing. Jadi sekarang tugas pemerintah bagaimana utangnya bisa produktif menstimulus dunia usaha," tukasnya.

Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) telah merilis utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Agustus 2021 sebesar US$423,5 miliar atau tumbuh 2,7 persen (yoy). Angka itu lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 1,7 persen (yoy).

Perkembangan tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan pertumbuhan ULN sektor publik (pemerintah dan bank sentral).