News

Usut Korupsi di Kemenag, KPK Panggil Mantan Karyawan Koperasi Metropolitan


Usut Korupsi di Kemenag, KPK Panggil Mantan Karyawan Koperasi Metropolitan
Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan korupsi (KPK) (AKURAT.CO/Bayu Primanda)

AKURAT.CO, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil Mantan Karyawan Koperasi Metropolitan, Sunarto terkait kasus dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa di lingkungan Kemenag tahun 2011.

Juru Bicara KPK, Ali Fikri mengatakan bahwa Sunarto dijadwalkan diperiksa hari ini sebagai saksi untuk mantan pejabat pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Ditjen Pendis Kemenag), Undang Sumantri yang merupakan tersangka dalam kasus tersebut.

"Yang bersangkutan dipanggil sebagai saksi untuk tersangka USM (Undang Sumantri)," kata Ali, di Jakarta, Rabu (1/7/2020).

Dalam kasus ini, KPK menetapkan Undang Sumatri yang dijerat dalam pengembangan perkara pengadaan barang dan jasa di Kemenag tersebut.

Undang diduga terlibat dalam kasus korupsi pengadaan pada Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Total kerugian negara diduga mencapai Rp 16 miliar.

KPK menduga Undang terlibat dalam 2 kasus, yaitu korupsi pengadaan peralatan laboratorium komputer untuk MTs serta pengadaan pengembangan Sistem Komunikasi dan Media Pembelajaran Terintegrasi untuk Jenjang MTs dan MA pada Ditjen Pendis Kemenag pada 2011.

USM diduga melanggar Pasal 2 Ayat (1) dan/atau Pasal 3 UU nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Penetapan USM sebagai tersangka merupakan pengembangan dari kasus pengadaan laboratorium komputer yang sebelumnya menjerat mantan anggota DPR periode 2009-2014, Dzulkarnaen Djabar yang telah divonis bersalah dan dijatuhkan hukuman 15 tahun penjara.

KPK juga sebelumnya juga sudah menjerat sejumlah tersangka dalam pusaran kasus ini pada 2017. Mereka adalah Fahd El Fouz alias Fahd A Rafiq, anggota Banggar DPR kala itu, Zulkarnaen Djabar dan Dendy Prasetya.

Ketiga itu diketahui 'bermain' dalam proyek pengadaan Al-Quran tahap pertama tahun 2011, pengadaan Al-Quran tahap kedua tahun 2012 dan pengadaan laboratorium komputer MTs yang anggarannya ada di anggaran Kemenag tahun 2011. Para tersangka tersebut sudah dijatuhi vonis oleh majelis hakim karena terbukti bersalah melakukan korupsi.[]