News

Usulan AHY Agar Pemerintah Beri Bantuan Keluarga Korban KRI Nanggala-402 Diapresiasi

Tiga usulan tersebut adalah keluarga tetap menerima gaji utuh, beasiswa bagi anak-anak mereka serta fasilitas perumahan.


Usulan AHY Agar Pemerintah Beri Bantuan Keluarga Korban KRI Nanggala-402 Diapresiasi
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY menyampaikan keterangan kepada wartawan terkait Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat yang dinilai ilegal di DPP Demokrat, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (5/3/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Usulan Partai Demokrat agar Pemerintah memberi perhatian penuh pada para keluarga awak KRI Nanggala-402 yang gugur di medan tugas diapresiasi banyak pihak.

Sebab, meskipun Pemerintah sudah punya prosedur tetap bagi keluarga prajurit yang ditinggalkan, tapi ini kejadian luar biasa yang tidak boleh disikapi dengan biasa saja.

Dosen FISIP Unsyiah Banda Aceh Aryos Nivada bahkan menggarisbawahi gugurnya Letkol (P) Irfan Suri asal Samalanga, Bireun, Aceh, yang merupakan wujud kesetiaan dan pengorbanan masyarakat Aceh demi keutuhan NKRI.

"Saya juga mengapresiasi Pemerintah yang sudah mewujudkan satu dari tiga usulan Partai Demokrat sebagai bentuk perhatian penuh Pemerintah pada para keluarga awak kapal selam yang tenggelam itu. Tiga usulan tersebut adalah keluarga tetap menerima gaji utuh, beasiswa bagi anak-anak mereka serta fasilitas perumahan, sebagaimana dinyatakan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (25/4)," kata pria yang juga Peneliti senior Jaringan Survei Inisiatif, Aceh itu.

Dari tiga usulan tersebut, Pemerintah melalui Menteri Pertahanan juga sudah setuju untuk memberi beasiswa penuh bagi anak-anak para awak KRI Nanggala-402 hingga lulus Sarjana.

Pengamat Mochtar W. Oetomo dari Surabaya juga mengapresiasi usulan dari Partai Demokrat, menurutnya, 47 dari 53 awak yang gugur berasal Jawa Timur ini merupakan patriot bangsa yang sejati.

"Kejadian yang luar biasa. Sudah sepatutnya negara memperlakukan mereka dengan luar biasa. Jangan cukup mengikuti protap yang berlaku saja,” kata Mochtar yang juga mengelola lembaga survei Surabaya Survey Center (SSC).

"Menjadi prajurit itu kontrak mati. Setiap prajurit tahu itu. Keluarganya pasti juga tahu. Tapi ketika akhirnya mereka gugur dalam tugas, peran mereka dalam keluarga masing-masing tetap tidak tergantikan. Karena itu setidak-tidaknya negara bisa meringankan beban keluarga yang ditinggalkan," tambahnya.

Hal senada juga diungkapkan pengamat politik Adi Prayitno, yang mengingatkan pemerintah agar tidak memandang usulan Demokrat dengan kacamata politik semata.

“Lihatlah dari sisi kemanusiaan. Indonesia sedang berkabung nasional, kehilangan patriot terbaik. Peran para awak yang gugur sebagai Ayah, suami maupun anak dari keluarga yang mereka tinggalkan, tidak akan pernah tergantikan selamanya,” pinta Adi.

Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini pun menilai tiga usulan yang disampaikan Ketua Umum AHY itu relevan dengan kondisi yang dihadapi para keluarga prajurit.

“Mas AHY berdinas militer selama 16 tahun sebagai komandan. Ia mestinya tahu betapa berharganya setiap nyawa prajurit, dan dibalik setiap nyawa prajurit itu, ada keluarga yang menggantungkan hidupnya. Bayangkan saat kepala keluarga mereka gugur dalam tugas. Ini soal kemanusiaan,” pungkasnya.[]

Melly Kartika Adelia

https://akurat.co