Entertainment

Usai Pemeriksaan 9 Jam, Rachel Vennya Minta Maaf Depan Media

Sembilan jam selebgram Rachel Vennya selesai diperiksa penyidik Polda Metro Jaya


Usai Pemeriksaan 9 Jam, Rachel Vennya Minta Maaf Depan Media
Rachel Vennya minta maaf depan media di Polda Metro Jaya, Kamis (21/10/2021) (AKURAT.CO/Zendy Pradana)

AKURAT.CO Sembilan jam selebgram Rachel Vennya selesai diperiksa penyidik Polda Metro Jaya terkait kasus kaburnya saat karantina di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Pademangan, Jakarta Utara. 

Rachel datangi Polda Metro Jaya sekitar pukul 14.20 WIB, kemudian selesai melakukan pemeriksaan sekitar pukul 23.00 WIB. Rachel keluar bersama dengan Maulida Khairunnisa dan kekasihnya, Salim Nauderer. 

Rachel Vennya mengucapkan permintaan maaf di depan gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya. 

"Rekan-rekan semuanya, saya, Maulida, dan Salim mau minta maaf," kata Rachel Vennya di depan gedung Dirkrimum Polda Metro Jaya, Kamis (21/10/21). 

Setelah memberikan pernyataan, Rachel Vennya pun langsung pulang. Ia nampak menumpangi mobil dengan nomor polisi RFS. Mobil tersebut berjenis Toyota Alphard berkelir hitam.

Usai Pemeriksaan 9 Jam, Rachel Vennya Minta Maaf Depan Media - Foto 1
Rachel Vennya Selebgram Rachel Vennya (tengah) saat tiba di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (21/10/2021). AKURAT.CO/Endra Prakoso

Diketahui sebelumnya, pasca dugaan kaburnya Rachel Vennya dari tempat karantina, Satgas Penanganan Covid-19 pun mengambil sikap tegas. Juru Bicara Satgas, Wiku Adisasmito mengatakan, pemerintah atau otoritas terkait siap memproses secara hukum siapa pun orang yang lari dari lokasi karantina. 

“Terkait dengan kasus WNI yang meninggalkan masa karantina di Wisma Atlet sebelum waktunya, maka pemerintah memastikan bahwa proses hukum sedang berjalan. Satgas menjunjung tinggi penerapan aturan yang berlaku dan menegakkan kedisiplinan untuk melindungi keselamatan masyarakat kepada seluruh pelaku perjalanan internasional,” jelas Wiku saat menyampaikan keterangan pers daring, Kamis (14/10/21). 

Wiku melanjutkan, sanksi itu sudah sangat jelas dan diatur dalam Pasal 14 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular dan beleid lain yang mengatur tentang Kekarantinaan Kesehatan. 

Pasal 93 UU Kekarantinaan Kesehatan mengatur setiap orang yang tidak mematuhi penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan dan/atau menghalang-halangi penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan sehingga menyebabkan kedaruratan kesehatan masyarakat dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100 juta.