News

Usai Lancarkan Kudeta, Pemimpin Baru Burkina Faso Janji Basmi Kekerasan oleh Militan

Letnan Kolonel Paul-Henri Damiba menyampaikan pidato nasional pertamanya pada Kamis (27/1) malam sejak mengambil alih kekuasaan.


Usai Lancarkan Kudeta, Pemimpin Baru Burkina Faso Janji Basmi Kekerasan oleh Militan
Dalam pidato pertamanya pada Kamis (27/1) malam, Pemimpin Baru Burkina Faso Letnan Kolonel Paul-Henri Damiba berjanji akan mengembalikan tatanan konstitusional normal ketika kondisinya tepat. (Foto: REUTERS) ()

AKURAT.CO Letnan Kolonel Paul-Henri Damiba memimpin pemberontakan yang menggulingkan Presiden Burkina Faso Roch Kabore pada Senin (24/1). Ia menyalahkan presiden karena gagal membendung kekerasan oleh militan Islam. Pemimpin baru ini pun berjanji mengembalikan tatanan konstitusional normal ketika kondisinya tepat.

Dilansir dari BBC, Damiba menyampaikan pidato nasional pertamanya pada Kamis (27/1) malam sejak mengambil alih kekuasaan. Sementara itu, para pemimpin Afrika Barat akan membahas kudeta tersebut dalam KTT darurat pada Jumat (28/1).

Burkina Faso menjadi negara ketiga di Afrika Barat yang mengalami pengambilalihan militer setahun belakangan. Kudeta serupa telah terjadi di Guinea dan Mali, sehingga keduanya dijatuhi sanksi oleh blok regional Ecowas untuk menekan mereka agar kembali ke tatanan konstitusional.

baca juga:

"Ketika kondisinya tepat, sesuai dengan tenggat waktu yang akan ditentukan rakyat kita dalam seluruh kedaulatan, saya berkomitmen untuk mengembalikan tatanan konstitusional yang normal," janjinya.

Ia pun ingin bertemu dengan perwakilan dari berbagai lapisan masyarakat untuk menyepakati peta jalan reformasi. Ia menambahkan kalau Burkina Faso membutuhkan mitra internasional 'lebih dari sebelumnya', menyusul kecaman atas kudeta tersebut.

"Saya meminta komunitas internasional untuk mendukung negara kami agar dapat keluar dari krisis ini sesegera mungkin," ucapnya.

Kudeta terjadi saat Rusia bersaing dengan Prancis untuk membantu negara-negara Afrika Barat mengatasi pemberontakan Islam yang berkembang. Namun, Damiba tak merinci komunitas internasional yang mana yang ia inginkan dukungannya.

Prancis mengerahkan ribuan tentara di Afrika Barat untuk membantu bekas koloninya, Burkina Faso, Mali, dan Niger, mengatasi pasukan jihad. Namun, kehadiran Prancis terbukti semakin tak populer di kawasan itu. Presiden Emmanuel Macron pun mulai mengurangi jumlah pasukan Prancis.

Di sisi lain, Mali telah beralih ke Rusia untuk mengisi kekosongan tersebut. Akibatnya, timbul pertikaian sengit dengan Prancis. Sekelompok tentara bayaran Rusia pun telah menawarkan jasa mereka kepada para pemimpin baru Burkina Faso.

Militer Burkina Faso mengumumkan melalui siaran televisi pemerintah bahwa mereka telah merebut kekuasaan pada Senin (24/1) karena situasi keamanan memburuk. Dalam pidatonya, Damiba berjanji akan menjadikan perang melawan jihadis sebagai prioritasnya dan merebut kembali daerah pedesaan. Dengan begitu, 1,5 juta orang yang telah terusir dapat kembali pulang ke rumahnya.

Sebelum merebut kekuasaan, ia berada di garis depan perang melawan militan Islam. Damiba juga menulis buku dengan topik tersebut tahun lalu.[]