Ekonomi

Usai Kasus Evergrande, Kini Menkeu Ketar-ketir Dampak Gagal Bayar Utang AS

Menkeu kini mewaspadai persoalan batas utang di AS. Persoalan itu akan membuat AS kehabisan uang tunai pada Oktober 2021 mendatang


Usai Kasus Evergrande, Kini Menkeu Ketar-ketir Dampak Gagal Bayar Utang AS
Menteri Keuangan Sri Mulyani di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (30/11). (AKURAT.CO/Denny Iswanto)

AKURAT.CO Setelah persoalan raksasa properti asal China, Evergrande yang mengalami gagal bayar utang cukup besar, kini Menteri Keuangan Sri Mulyani turut mewaspadai persoalan batas utang di AS. Persoalan itu akan membuat AS kehabisan uang tunai pada Oktober 2021 mendatang.

“Beberapa persoalan seperti Evergrande yang ada di RRT atau terjadinya pembahasan di bidang fiskal seperti debt limit yang terjadi di Amerika Serikat. Ini semuanya menjadi faktor yang harus kita terus waspadai, juga kemungkinan terjadinya tapering dari kebijakan moneter di Amerika Serikat," katanya acara Forum Indonesia Bangkit, Rabu (29/9/2021).

Diketahui, Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan Negeri Paman Sam terancam kehabisan uang tunai pada 18 Oktober 2021. Ancaman itu akan menjadi realita, jika Kongres tak segera menyetujui kenaikan plafon utang.

Adapun nilai utang Pemerintah AS saat ini adalah US$28,781 triliun atau setara Rp410.129 triliun. Jumlah itu sudah melampaui batas utang sebesar US$28,4 juta atau sekitar Rp404.529 triliun.

Apabila batas utang tidak dinaikkan hingga 1 Oktober 2021, maka Pemerintah AS terpaksa ditutup sementara karena ketiadaan anggaran. Jika terwujud, maka akan menjadi shutdown ketiga dalam satu dekade terakhir.

Sebelumnya, krisis utang bernilai raksasa juga melilit Evergrande, salah satu perusahaan properti besar asal China. Perusahaan tersebut memiliki total liabilitas US$305 miliar. Itu dikhawatirkan dapat meruntuhkan stabilitas keuangan China maupun dunia.

Krisis yang tengah dialami oleh pengembang real estat terbesar di China, Evergrande menyebabkan permasalahan likuiditas dinilai bakal mempengaruhi perekonomian dunia. Keterpurukan yang dihadapi oleh Evergrande turut membuat saham perusahaan jatuh ke level terendah dalam lebih dari 11 tahun. Situasi ini pun nampaknya turut memukul para miliarder ternama dunia, seperti Elon Musk, Jeff Bezos, Bill Gates, Mark Zuckerberg, dan lainnya kehilangan lebih dari US$26 miliar (Rp370 triliun).

CEO Tesla Elon Musk kekayaan bersihnya turun US$7,2 miliar menjadi US$198 miliar, menurut Bloomberg Billionaires Index. Pendiri Amazon.com, Jeff Bezos kehilangan US$5,6 miliar, dengan kekayaan bersih US$194 miliar.[]