News

Usai Gempa Tewaskan 1.000 Orang, Afganistan Bersiap Hadapi Wabah Kolera

Usai Gempa Tewaskan 1000 Orang, Afganistan Bersiap Hadapi Wabah Kolera


Usai Gempa Tewaskan 1.000 Orang, Afganistan Bersiap Hadapi Wabah Kolera
Warga Afganistan, yang terluka akibat gempa baru-baru ini, menerima perawatan di bangsal rumah sakit di Sharana, Afganistan, 24 Juni 2022 (Ali Khara/Reuters)

AKURAT.CO Ribuan orang yang terkena dampak gempa bumi mematikan di Afganistan timur sangat membutuhkan air bersih dan makanan. Di saat bersamaan, mereka yang terdampak berisiko terkena penyakit.

Seorang pejabat kementerian kesehatan Afganistan mengungkap perkembangan itu pada Minggu (26/6), atau beberapa hari usai badan PBB memperingatkan soal wabah kolera di wilayah tersebut.

Gempa yang berlangsung pada Rabu (22/6) itu telah menewaskan sedikitnya 1.000 orang dan melukai sekitar 2.000 lainnya. Setidaknya 10 ribu rumah juga mengalami kehancuran akibat bencana tersebut. 

baca juga:

Setelah laporan dampak gempa yang luar biasa itu, kantor kemanusiaan PBB (OCHA) memperingatkan bahwa wabah kolera telah menjadi perhatian lanjutan dan serius.

"Orang-orang sangat membutuhkan makanan dan air bersih. Kami meminta masyarakat internasional, organisasi kemanusiaan untuk membantu kami terhadap persediaan makanan dan obat-obatan. Para penyintas mungkin terkena beberapa penyakit karena mereka tidak memiliki rumah dan tempat tinggal yang layak untuk hidup," kata juru bicara kementerian kesehatan Afganistan Sharafat Zaman.

Zaman menambahkan bahwa saat ini, para pejabat telah mengelola obat-obatan. Namun, menangani mereka yang kehilangan rumah akan menjadi tantangan.

Bencana terbaru ini telah menjadi ujian besar bagi penguasa garis keras Taliban. Ini terutama karena kelompok itu telah dijauhi oleh banyak pemerintah asing karena kekhawatiran tentang hak asasi manusia sejak mereka menguasai negara itu tahun lalu.

Namun, membantu ribuan warga yang terdampak juga menjadi tantangan bagi negara-negara yang telah memberlakukan sanksi terhadap badan-badan pemerintah Afganistan dan bank-banknya. Langkah untuk memotong bantuan langsung telah mengarah pada krisis kemanusiaan bahkan sebelum gempa mengguncang negara miskin itu.

Taliban sendiri telah menyerukan pencabutan sanksi dan pembatalan terhadap pembekuan miliaran dolar aset bank sentral yang disimpan di lembaga keuangan Barat. Namun, sejauh ini, belum ada perkembangan lanjut soal sanksi maupun perubahan pola pemerintah Taliban, yang terbukti masih mengekang hak warganya, khususnya pendidikan untuk kaum perempuan.

Kendati begitu, dalam menangapi bencana gempa kali ini, PBB dan beberapa negara lain telah mencurahkan perhatian lebih untuk Afganistan. Mereka pun dilaporkan telah mengirimkan bantuan ke daerah-daerah yang terkena dampak, dan lebih banyak dukungan akan tiba dalam beberapa hari mendatang.

Sementara bantuan terus dibutuhkan, sebuah rumah sakit di Kabul, yang dulu merawat korban perang, telah membuka bangsalnya untuk korban gempa. Kendati demikian, sebagian besar orang masih berada di daerah-daerah yang hancur akibat bencana.

"Rumah kami hancur, kami tidak memiliki tenda... ada banyak anak bersama kami. Kami tidak punya apa-apa. Makanan dan pakaian... semuanya berada di bawah reruntuhan. Saya telah kehilangan saudara-saudara saya, hati saya hancur. Sekarang kami hanya berdua. Saya sangat mencintai mereka," kata Hazrat Ali, 18 tahun, berbicara dari Wor Kali, sebuah desa di distrik Barmal yang paling parah terkena dampak, dikutip dari CNN. []