News

Usai Dihantam Tsunami Corona, Dua per Tiga Populasi India Miliki Antibodi COVID-19

Sekitar dua per tiga populasi India miliki antibodi COVID-19


Usai Dihantam Tsunami Corona, Dua per Tiga Populasi India Miliki Antibodi COVID-19
Dalam gambar ini, seorang petugas kesehatan mengumpulkan sampel tes swab COVID-19 di Mumbai, India, pada 16 Juli 2021 (Satish Bate/Hindustan Times/Getty Images)

AKURAT.CO, Lebih dari dua pertiga populasi India diyakini telah memiliki antibodi COVID-19. Hal ini ditarik dari laporan survei serologi yang dilakukan pemerintah usai India dihantam gelombang kedua infeksi COVID-19 atau biasa dijuluki 'tsunami corona'.

Seperti diwartakan CNN hingga France24, hasil survey soal antibodi itu dirilis oleh Dewan Penelitian Medis India (ICMR) yang dikelola pemerintah pada Selasa (20/7).

Dalam survey itu, peneliti melakukan uji diagnostik serum darah terhadap sekitar 29 ribu peserta dengan usia di atas 6 tahun. Lalu, dari total peserta, mayoritasnya belum mendapatkan vaksin, yakni mencapai 62 persen. Sementara, sekitar seperempatnya telah mendapatkan dosis pertama, dan hanya 13 persen orang dewasa yang sudah divaksin lengkap.

Penelitian itu dilakukan secara nasional dari Juni hingga Juli 2021. Adapun wilayah yang diteliti meliputi 70 distrik di 21 negara bagian. 

Kemudian dari tes sirologi itulah, diketahui 67,6 persen dari perserta memiliki antibodi terhadap COVID-19. Ini naik secara drastis dari hasil survey serologi nasional yang dilakukan awal tahun ini, yakni anti-bodi hanya mencapai 25 persen dari kesuluruhan sampel.

Seperti diketahui, sistem kekebalan tubuh kita mengembangkan antibodi, baik yang diinduksi oleh vaksinasi, atau sebagai respons terhadap infeksi. Namun, hasil studi baru itu tetap menyiratkan bahwa 2/3 populasi India mungkin telah terinfeksi COVID-19. Karenanya, para peneliti mengaku khawatir jika pada akhirnya, India akan diterpa gelombang ketiga infeksi corona. Mengingat, peluncuran vaksinasi di India masih terbilang lambat.

Sejauh ini, hanya 6,35 persen dari 1,38 miliar penduduk India yang telah divaksinasi penuh, menurut data dari Universitas Johns Hopkins (JHU). Sementara diketahui, India masih belum pulih total dari gelombang kedua meski infeksi baru harian terus menurun. 

"Lebih dari separuh anak-anak (6 hingga 17 tahun) sero-positif, dan prevalensi sero serupa terjadi di daerah pedesaan dan perkotaan. Dan negara-negara bagian, distrik, dan daerah yang tidak memiliki antibodi akan berisiko terinfeksi gelombang infeksi. Artinya sekitar 400 juta orang masih akan rentan jika gelombang ketiga menghantam," ungkap Direktur Jenderal ICMR Balram Bhargava.

Selain itu, studi ini juga pada ujungnya menambah bukti bahwa virus mungkin telah menyebar jauh lebih luas dibanding angka resmi kasus. Ini sejalan dengan peringatan dari para petugas kesehatan dan ilmuwan soal jumlah kasus dan kematian yang mungkin jauh lebih tinggi yang dilaporkan. Contohnya adalah perbedaan antara angka resmi dan sero-survei.

Kemudian ada pula studi dari tim peneliti Pusat Pengembangan Global yang berbasis di AS. Mereka bahkan menyebut bahwa jumlah kematian COVID-19 di India bisa 10 kali lipat jauh lebih tinggi dari angka yang dilaporkan. 

"Antara 3,4 hingga 4,9 juta perkiraan kematian berlebih dilaporkan di India antara Januari 2020 sampai Juni 2021," tulis peneliti AS pada makalah penelitian yang juga diterbitkan pada Selasa waktu setempat.

Sementara diketahui, sejauh ini, India mencatat total infeksi dengan angka menembus lebih dari 31 juta kasus. Sedangkan jumlah keseluruhan kematian menurut Worldometers adalah sebanyak 419.021 kasus. []