News

Untuk Tingkatkan Elektabilitas, Ketum DEPINAS SOKSI Minta Partai Golkar Ciptakan Isu Sentral untuk Giring Pemilih

Untuk Tingkatkan Elektabilitas, Ketum DEPINAS SOKSI Minta Partai Golkar Ciptakan Isu Sentral untuk Giring Pemilih
Ketua Umum Soksi Ahmadi Noor Supit saat membuka Pengukuhan Pengurus Depinas Soksi 2020-2025 di Jakarta, Kamis (3/12/2020). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Ketua Umum DEPINAS SOKSI membuka Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) II dan Musyawarah Daerah (Musda) ke-XI Dewan Pimpinan Daerah (DEPIDAR) Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) IX Provinsi Jawa Barat, pada hari Jumat (2/4/2021) di Ballroom Hotel Horison Bandung.

Dalam sambutannya, pria yang akrab disapa Supit ini berharap, kader-kader SOKSI bersama seluruh elemen Partai Golkar lainnya mampu menciptakan isu sentral untuk menggiring pemilih dalam memenangkan Partai Golkar, apalagi di masa menjelang Pemilu Serentak 2024. Hal ini diyakinkan juga akan membawa Partai Golkar kembali meningkat dalam level elektoralnya. 

"Waktunya paling lambat di tahun 2022, harus ada isu baru yang dibawa oleh Partai Golkar, tidak bisa terus bernostalgia dengan kemenangan dan kejayaan Partai Golkar zaman dahulu. Dan kami di SOKSI akan memulai itu, bagaimana pun tanggung jawab politik berada di tangan SOKSI, kebanggaan itu harus tetap kita pelihara dengan cara kita tetap eksis dalam setiap kegiatan politik," ujarnya. 

baca juga:

Supit menegaskan, masyarakat hari ini berharap ada perubahan, dan perubahan itu hanya bisa dilakukan oleh Partai Golkar itu sendiri. 

"Jangan ada satu kader pun yang ragu dalam pemenangan Golkar," tandasnya. 

Selain itu, dia mengingatkan bahwa SOKSI sejak didirikan oleh Prof. Suhardiman, telah dikenal sebagai organisasi yang visioner karena mampu meramalkan tanda-tanda zaman, khususnya di dunia perpolitikan.

Maka dari itu, kader-kader SOKSI hari ini juga diharapkan mampu meneruskan kemampuan demikian dengan terus membuka forum diskusi untuk memecahkan dan mencari solusi masalah kebangsaan di masa yang akan datang. 

"Misalnya saat ini, pemilih pemula yang sekarang ada di bangku SMA dan kuliah, sudah 1,5 tahun belajar daring, ini buat mereka merasakan suasana dan kebiasaan baru, kemudian apa yang akan terjadi? Yang pertama pastinya Pemilu 2024 akan berbeda dari pemilu sebelumnya, lalu hal ini juga berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi," kata Supit. 

"Perilaku berbeda akan berpengaruh juga terhadap dunia perpolitikan, walaupun undang-undangnya belum berubah, biayanya akan sangat besar jika dilaksanakan secara serentak. Apakah kondisi dunia dan Indonesia akan membaik 2 tahun ini? Kita tidak tahu," tambahnya.

Melly Kartika Adelia

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu