Ekonomi

Untuk Memenuhi Stok yang Menipis, Bulog Siap Beli Beras dengan Harga Komersial

Untuk Memenuhi Stok yang Menipis, Bulog Siap Beli Beras dengan Harga Komersial
Pekerja beraktivitas di Gudang Bulog, Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (2/9/2020). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) siap beli beras petani dengan harga komersial. Upaya ini dilakukan untuk memenuhi stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang semakin menipis.

Diketahui, saat ini isu impor beras cukup menjadi perhatian serius. Pasalnya, stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang ada saat ini di Bulog jumlahnya kurang dari 1 juta ton.

"Sampai hari ini kita masih menyerap beras dari dalam negeri, dara lahan petani-petani, dari penggilingan-penggilingan yang bisa kita beli dan dia mau dengan harga komersial sebesar Rp10.200 per liter," ujar Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso saat ditemui usai Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IV DPR RI, Rabu (23/11/2022).

baca juga:

Pria yang akrab disapa Buwas ini bilang, Bulog tidak memiliki masalah anggaran kendati membeli beras dengan harga komersil. Sebab, Bulog membelinya dengan pinjaman bank dan bunga komersial. 

"Ini kita gunakan untuk membanjiri pasar. Begitu kita beli, kita banjirkan langsung ke pasar dengan harga yang lebih murah. Kita intervensi pasar supaya harganya turun atau stabil. Masyarakat konsumen juga mendapatkan beras yang murah. Tujuannya, kita untuk menekan inflas," ujarnya.

Dia menegaskan, sampai hari ini Bulog masih melakukan penyerapan beras. Ia membantah dengan tegas apabila ada pihak yang mengatakan bahwa Bulog tidak menyerap beras dari petani.

Menurutnya, hal itu merupakan bukti komitmen Bulog tetap mendahulukan produksi dari dalam negeri. Namun jika terdapat kerawanan dan kemungkinan tidak tercapainya stok ideal CBP, yakni sebesar 1-1,2 juta ton, maka opsi impor harus dijalankan.

"Untuk keamanan dan menjamin ketersediaan, bilamana ini ada kerawanan dan kemungkinan tidak tercapai 1-1,2 juta, maka kita harus memakai upaya-upaya, entah bagaimana, atau kita datangkan dari mana. Karena itu kan keputusan rakortas, bukan maunya Bulog atau Badan Pangan," ujar Buwas. []