News

Universitas Michigan AS Bayar Ganti Rugi Rp7,03 Triliun kepada 1.050 Korban Pelecehan Seksual

Selama berkarier sejak 1966, dokter olahraga Robert Anderson dituding melakukan pelecehan seksual saat pemeriksaan rutin mahasiswanya.


Universitas Michigan AS Bayar Ganti Rugi Rp7,03 Triliun kepada 1.050 Korban Pelecehan Seksual
Masyarakat memberikan dukungannya tahun lalu kepada para penyintas pelecehan seksual oleh Robert Anderson di Universitas Michigan, Amerika Serikat. (Foto: BBC) ()

AKURAT.CO, Universitas Michigan, Amerika Serikat (AS), telah setuju untuk membayar ganti rugi sebesar USD 490 juta (Rp7,03 triliun) kepada lebih dari 1.000 mantan mahasiswanya. Para korban yang sebagian besar lelaki itu mengaku telah dilecehkan secara seksual oleh dokter olahraga Robert Anderson.

Dilansir dari BBC, Anderson dituding telah melecehkan korban selama pemeriksaan medis rutin sejak tahun 1960an. Ia meninggal pada tahun 2008.

Penyelidikan polisi pun baru diluncurkan pada 2018. Namun, mereka mengatakan Anderson tak dapat dituntut karena sudah meninggal. Selain itu, dugaan kejahatannya telah kedaluwarsa berdasarkan undang-undang pembatasan 6 tahun di negara bagian tersebut.

baca juga:

Pada 2020, Presiden Universitas Michigan Mark Schlissel meminta maaf atas nama kampus kepada semua yang dirugikan oleh dokter itu. Tahun lalu, sebuah laporan independen yang ditugaskan universitas menemukan kalau selama karier Anderson, dari tahun 1966-2003, para staf telah kehilangan banyak kesempatan untuk menghentikannya.

Setelah 15 bulan negosiasi, pengacara para korban, Parker Stinar, mengumumkan penyelesaian. Dengan demikian, sekitar 1.050 orang akan mendapatkan bagian dari USD 490 juta (Rp7,03 triliun). Sebesar USD 30 juta (Rp430 miliar) disisihkan untuk para korban yang menyusul buka suara di kemudian hari.

"Perjalanan ini panjang dan menantang. Saya yakin penyelesaian ini akan memberikan keadilan dan penyembuhan bagi banyak pria dan wanita pemberani yang menolak bungkam," ujar Stinar.

Banyak tuduhan terhadap Anderson melibatkan pemeriksaan dubur dan testis yang tak perlu. Salah satu korbannya yang berani buka suara adalah Gilvanni Johnson, mantan anggota tim American football yang terkenal di kampus, Wolverine.

"Akibat pengalaman itu, saya tak percaya pada dokter. Saya jadi memiliki masalah kepercayaan, masalah hubungan, dan masalah keintiman," ungkapnya. []