Lifestyle

Uniknya Tikar Lampit, Cocok Jadi Oleh-oleh Traveling dari Kalimantan

Lampit adalah kerajinan berbentuk tikar yang terbuat dari rotan asal Kalimantan, dan sudah ditetapkan menjadi  Warisan Tak Benda Indonesia sejak 2010.


Uniknya Tikar Lampit, Cocok Jadi Oleh-oleh Traveling dari Kalimantan
Pembuatan lampit di Kalimantan Barat (SUARAPEMREDKALBAR.COM)

AKURAT.CO, Indonesia tidak hanya kaya akan beragam budaya, tapi juga kerajinan tangan tradisional. Salah satunya adalah lampit dari Kalimantan. Menurut laman resmi Kementerian Pendidikan dan Budaya Indonesia (Kemdikbud), lampit adalah kerajinan berbentuk tikar yang terbuat dari rotan. 

Adapun jenis rotan yang umum digunakan sebagai bahan baku adalah sega, saka dan lembak, yang banyak tumbuh di daerah Kapuas Hulu. Ketiga jenis rotan ini memiliki silica kuning keputihan sehingga tampak berkilap. Tak hanya itu saja, rotan-rotan ini juga tidak mudah patah dan tahan lama. 

Tak seperti tikar pada umumnya yang hangat, bahan rotan membuat permukaan lampit terasa dingin. Ini menjadikan lampit cocok digunakan di Indonesia yang beriklim tropis. 

Uniknya Tikar Lampit, Cocok Jadi Oleh-oleh Traveling ke Kalimantan - Foto 1
Tikar lampit rekreartive.com

Pembuatan lampit

Jika diperhatikan sekilas, lampit memang tampak sederhana. Namun, tak semua orang bisa membuat lampit. Dibutuhkan keahlian khusus untuk menganyam rotan sehingga tercipta lampit yang rapi. 

Dilansir dari laman resmi Kemdikbud, ada beberapa tahapan dalam pembuatan tikar lampit. Pertama, rotan harus dibelah, dibersihkan atau dikikis kulit arinya. Setelah itu, cuci rotan dengan air agar lebih bersih, kemudian belah dengan menggunakan pisau. Ukuran rotan yang dibelah harus sama, yaitu kira-kira dua sentimeter.

Setelah bilah-bilah rotan terkumpul, pengrajin tidak akan langsung melakukan penganyaman. Mereka terlebih dulu menyortir bilah-bilah rotan itu berdasarkan warnanya. Bahkan ada pengrajin yang juga membagi bilah-bilah rotan berdasarkan kualitas dan coraknya. 

Uniknya Tikar Lampit, Cocok Jadi Oleh-oleh Traveling ke Kalimantan - Foto 2
Bilah-bilah rotan yang dijadikan lampit warisanbudaya.kemdikbud.go.id

Nah, setelah proses penyortiran selasai, barulah pengrajin mulai menganyam hingga terbentuk sebuah tikar. Proses akhir dari penganyaman ini adalah penjangatan atau mengikat pinggiran lampit agar kuat dan tidak lepas. Lampit yang telah selesai dikerjakan kemudian dijemur agar bersih dan mengilap.

Saat ini, banyak lampit hadir dalam beragam motif dan warna. Akan tetapi, lampit tradisonal, yang tanpa motif dan pewarna, umumnya lebih disukai karena lebih menunjukkan karakteristik dari tikar tersebut. Selain itu, kesederhanaan bentuk serta warnanya yang natural juga membuat lampit cocok diletakkan di mana saja. 

Lampit sendiri sudah resmi ditetapkan menjadi Warisan Tak Benda Indonesia sejak 2010 lalu. Hingga saat ini, pembuatan lampit masih dikerjakan secara tradisional oleh masyarakat di Kecamatan Embaloh Hilir, Kalimantan Barat. Pengrajin lampit juga ada di Dusun Sempadian, Desa Terusan, Kecamatan Manis Mata, Ketapang.

Uniknya Tikar Lampit, Cocok Jadi Oleh-oleh Traveling ke Kalimantan - Foto 3
Pembuatan lampit warisanbudaya.kemdikbud.go.id

Namun, lampit tidak hanya ada di Kalimantan Barat. Lampit ini ternyata lebih terkenal di Kalimantan Selatan, khususnya di Kota Amuntai. Kota ini dikenal sebagai sentral industri kerajinan rotan, termasuk lampit. Konon, kerajinan lampit telah menjadi tradisi masyarakat Kota Amuntai yang diwariskan secara turun temurun.

Nah, buat kawan AKURAT yang berencana traveling ke Kalimantan, lampit ini sangat cocok dijadikan oleh-oleh, loh.[]