Lifestyle

Uniknya Pernikahan Adat Madura, Harus Lewati Tali Demi Bertemu Sang Istri

Pernikahan adat tetap melekat di kehidupan masyarakat Madura. Setiap tahap dalam pernikahan adat tersebut memiliki makna, sakral namun tetap meriah. 


Uniknya Pernikahan Adat Madura, Harus Lewati Tali Demi Bertemu Sang Istri
Proses pernikahan adat Madura (Blog Tiga Dara)

AKURAT.CO, Suku Madura termasuk salah satu yang terbesar di Indonesia. Berada di wilayah Madura, Jawa Timur, suku Madura memiliki banyak kebudayaan yang sudah ada sejak lama dan dipegang teguh hingga sekarang. Salah satunya adalah tradisi pernikahan.

Di tengah zaman yang sudah modern, pernikahan adat tetap melekat di kehidupan masyarakat Madura. Setiap tahap dalam pernikahan adat tersebut memiliki makna, sakral namun tetap meriah. 

Berikut Akurat.co uraikan prosesi pernikahan adat suku Madura, Jumat, (24/9/2021): 

Ngangene

Sebelum menggelar acara lamaran secara resmi, keluarga pihak pria biasanya akan mengirimkan utusan ke rumah pujaan hatinya. Tahap ini disebut ngangene atau memberi kabar. Utusan tersebut bertugas menyampaikan keunggulan sang pria dihadapan keluarga perempuan. Hal paling utama yang biasanya menjadi pertimbangan keluarga pihak perempuan adalah soal agama. 

Araba pagar

Apabila keluarga pihak wanita menilai sang pria memiliki ilmu agama yang baik, bertanggung jawab dan bisa menjadi pemimpin keluarga, maka digelar araba pagar atau  perkenalan antara kedua orangtua. Pada perkenalan ini, kedua belah pihak melakukan nyeddek temo alias membicaran tentang lamaran. 

Pada momen ini, ada tradisi ater tolo dimana keluarga calon mempelai pria membawakan kosmetik, beras dan pakaian adat Madura untuk calon pengantin wanita. Seminggu setelahnya, keluarga perempuan membalas kedatangan keluarga calon mempelai pria dengan membawa hidangan nasi dan lauk-pauknya.

Lamaran

Sebelum mengikat janji, kedua calon pengantin melakukan lamaran. Ini seperti penegasan dan bukti keseriusan calon pengantin laki-laki untuk memulai bahtera rumah tangga dengan wanita pujaannya.

Pada saat lamaran calon pengantin pria akan memberikan minyak wangi, sejumlah uang, dan sapu tangan, yang menjadi tanda keduanya resmi bertunangan. Apabila proses lamaran sudah dilaksanakan, maka keluarga akan menentukan kapan pernikahan dilaksanakan.

Pada saat lamaran, pihak pria juga mengantarkan teket petton atau alat-alat pinangannya, berupa kocor (cucur), polot (ketan) yang sudah dimasak, sirih dan pinang, pakaian lengkap seorang wanita; seperti sarung, kerudung, baju, serta make up, dan masih banyak lagi. Adapun barang-barang ini disesuaikan dengan kemampuan pihak pria. 

Setelah itu, bawaan dari pihak laki-laki digelar di atas meja di depan tamu dan pini sepuh (sesepuh). Setelah itu, calon pengantin wanita akan dibawa masuk ke dalam acara dan melakukan sungkem kepada calon suami dan pini sepuhnya. Biasanya, pini sepuh sudah siap dengan amplop yang berisis uang untuk calon menantunya. Sementara pada malam hari, calon pengantin pria biasanya diajak untuk diperkenalkan dengan calon mertuanya.

Seminggu kemudian, pihak wanita biasanya akan berkunjung ke kediaman pihak laki-laki. Tentu saja tidak dengan tangan kosong. Mereka membawa nasi dan aneka lauk pauk, seperti enam piring karang benaci, satu baskom gulai kambing, dua sisir pisang raja dan masih banyak lagi. 

Prosesi sebelum pernikahan

Idealnya, calon mempelai wanita akan menjalani pingitan selama 40 hari menjelang hari pernikahannya. Selama 40 hari itu, calon pengantin wanita biasanya benar-benar tidak diizinkan untuk keluar rumah, dan fokus untuk merawat dirinya. Namun, saat ini pingitan biasnaya hanya berlangsung selama dua atau tiga hari karena calon pengantin perempuan harus bekerja. 

Hari pernikahan

Setelah resmi meminang sang wanita, calon pengantin pria masih harus melewati serangkaian ritual. 

Buka pintu atau mengghar bhalabar

Sebelum bersanding dengan istrinya, pengantin laki-laki harus melewati beberapa bentangan tali. Dulu yang dibentangkan tali biasa, tapi sekarang dimodifikasi dengan untaian melati. Tali ini disebut bhalabar.

Pada prosesi ini, ada perwakilan dari kedua belah pihak pengantin yang disebut bhud janggi dalam bahasa Madura. Mereka akan saling berdialog dengan tembang Madura.

Agar bisa menemui pengantin wanitanya, pihak pengantin pria harus bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh perwakilan pengantin wanita. Setiap kali perwakilan pengantin pria berhasil menjawab pertanyaan, maka satu tali akan dilepas. Begitu seterusnya hingga semua tali terlepas dan pintu terbuka. 

Mekalabah

Meski semua tali sudah lepas, kedua pengantin belum bisa bertemu. Perwakilan pengantin pria masih harus mengalahkan perwakilan pengantin wanita dalam bertarung silat dengan iringan musik khas Madura. Pada saat perwakilan pengantin pria menang, maka pengantin pria diperbolehkan untuk bertemu langsung dengan pengantin wanitanya.

Putar dulang

Pada tahap ini, pengantin wanita sudah siap menanti suaminya dengan duduk di atas baki besar yang terbuat dari kuningan. Dia duduk menghadap pelaminan alias membelakangi arah datang pengantin pria.

Dengan berjalan jongkok, pengantin pria akan datang menghampiri istrinya untuk memutar baki tersebut sehingga keduanya dapat saling berhadapan. Setelah berhadapan, pengantin pria berdiri dan memegang kepala pengantin wanita dan membantunya berdiri.

Keduanya kemudian berjalan menuju pelaminan. Proses ini bermakna pria sebagai kepala keluarga akan membimbing dan melindungi istri mengadapi berbagai masalah rumah tangga. 

Kemudian, acara dilanjutkan dengan memercikkan air bunga ke atas ubun-ubun oleh pihak keluarga dan sesepuh. Ini merupakan tanda pemberian doa restu doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk memohon keselamatan pengantin dalam menjalani bahtera rumah tangganya.[]