News

Uni Eropa: 90 Persen Kasus Baru COVID-19 adalah Varian Delta!

Varian tersebut, yang ditemukan pertama kali di India


Uni Eropa: 90 Persen Kasus Baru COVID-19 adalah Varian Delta!
Ilustrasi pasien corona (hindustantimes.com)

AKURAT.CO, Lembaga kesehatan Uni Eropa menyebut varian Delta, yang pertama kali ditemukan di India, dapat menyumbang 90 persen dari keseluruhan kasus COVID-19 baru yang terjadi di Eropa hingga akhir Agustus 2021 nanti. 

“Berdasarkan prakiraan transmisi dari varian Delta dan penggunaan prakiraan permodelan, 70 persen dari infeksi SARS-CoV-2 baru di EU/EEA pada awal Agustus dan 90 persen kasus baru di akhir Agustus diproyeksikan akan disebabkan oleh varian Delta,” jelas Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit Eropa (ECDC). 

Varian tersebut, yang ditemukan pertama kali di India, telah dideskripsikan sebagai 'dalam pengamatan' oleh WHO dan kini telah menyebar ke 60 negara dunia. Varian tersebut diperkirakan 40 hingga 60 persen lebih mudah berpindah dari satu orang ke orang lainnya daripada varian Alpha. 

Selain itu, akibat dari varian Delta tersebut, risiko lebih tinggi juga akan muncul pada peningkatan pasien di rumah sakit. Orang-orang yang baru menerima satu dosis vaksinasi juga diperkirakan lebih rentan terhadap varian tersebut, terlepas dari tipe vaksin yang telah dipilih. Sedangkan orang-orang dengan vaksinasi penuh, dapat memberikan perlindungan hampir setara terhadap varian Delta. 

Di Inggris, varian Delta telah ditemukan di 90 persen kasus baru COVID-19. Hingga berakibat lonjakan kasus positif meskipun juga meningkatnya jumlah vaksinasi. Ini menyebabkan pemerintah Inggris menunda rencana pelonggaran pembatasan hingga empat minggu. 

Akibatnya, negara Eropa memperketat pengawasan di perbatasan terkait para wisatawan dari India dan Inggris. Sedangkan Prancis juga telah menambahkan Rusia sebagai ‘daftar merah’ dari 21 negara yang masuk dalam pembatasan perjalanan, termasuk India, Afrika Selatan, dan Brasil. 

“Kemungkinan besar, varian Delta akan menyebar ketika musim panas datang, terutama di antara para orang muda yang kini masih bukan prioritas utama dalam target vaksinasi. Ini dapat berakibat risiko yang lebih tinggi pada orang yang lebih rentan untuk terinfeksi dan mengalami sakit yang lebih parah bahkan hingga kematian jika tidak divaksinasi,” jelas ECDC. 

Skenario pemodelan ECDC menunjukkan bahwa setiap relaksasi selama musim panas dari banyaknya tindakan non-farmasi yang diterapkan di UE/EEA pada awal Juni dapat menyebabkan peningkatan yang cepat dan signifikan dalam kasus harian COVID-19 di semua kelompok umur, terutama bagi mereka yang berusia di atas 50 tahun.

Sejumlah negara kini telah menarik pembatasan dalam dua minggu terkhir. Prancis tak lagi menjalankan pembatasan waktu malam hari sejak Minggu (20/6) lalu, beberapa hari setelahnya kewajiban untuk memakai masker juga telah dicabut. Spanyol juga akan mengikutinya pada 26 Juni mendatang. Selain itu, sejumlah negara juga telah membuka kembali restoran dan bar.

“Sangat penting untuk terus mendorong vaksinasi dalam tingkat yang lebih tinggi. Pada tahap ini, sangat krusial untuk memperpendek jarak vaksinasi dosis kedua dengan pertama agar orang-orang rentan dapat terlindungi,” jelas Dr. Andrae Ammon, direktur ECDC. 

Menurut ECDC, lebih dari 57 persen orang dewasa di EU/EEA telah menerima setidaknya satu dosis dari berbagai vaksin. Lebih dari sepertiganya telah menerima dua dosis vaksin. Meski begitu, 40 persen orang berusia 80 tahun dan 40 persen berusia lebih dari 60 tahun belum menerima vaksin penuh.  []