Ekonomi

UMKM Harus Adopsi Tren Baru untuk Gaet Kepuasan Pelanggan

Berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan UMKM, jumlah UMKM telah mencapai 62,4 juta dengan kontribusi PDB sebesar 61,07 persen


UMKM Harus Adopsi Tren Baru untuk Gaet Kepuasan Pelanggan
Pedagang menata produk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang dijual di M Bloc Market, Jakarta, Minggu (14/3/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan UMKM, jumlah UMKM telah mencapai 62,4 juta dengan kontribusi PDB sebesar 61,07 persen atau setara Rp8.573 triliun, dan berkontribusi menyerap tenaga kerja hingga 97 persen. UMKM pun disinyalir perlu melakukan langkah meretensi kepuasan pelanggan dan mengakuisisi pelanggan baru.

Chief Executive Officer TARA Platform Isman Ramadhan Sitorus menyatakan UMKM jelas semakin menunjukkan posisi yang penting bagi perekonomian Indonesia. Semakin banyak UMKM yang go digital di Indonesia dan hal ini memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi digital.

" Sudah banyak sekali UMKM yang mengadopsi tren-tren baru untuk terus mendapatkan pelanggan yang loyal. Oleh karena itu kami menawarkan TARA Platform ini sebagai salah satu caranya," ujarnya melalui keterangan resmi di Jakarta, Senin (4/10/2021).

Menurutnya semakin banyak UMKM yang terlibat dalam TARA Platform, maka akan memperluas juga jumlah merchant yang menyasar akar rumput sehingga penggunaannya akan lebih inklusif. Adapun untuk membangun ekosistem yang seamless, perusahaan yang menaungi TARA Platform (KDIGITAL), saat ini juga menyasar kerja sama dengan berbagai perusahaan besar untuk pengembangan jaringan melalui penjajakan kerja sama dengan LOTTE Shopping Indonesia (LOTTE Grosir).

LOTTE mempunyai potensi pengembangan dan pengelolaan 1.700 kios kelontong dan 280 minimarket aktif di berbagai daerah.

" Tidak hanya berhenti disitu, TARA Platform pun akan mulai melirik kerja sama dengan beberapa marketplace besar yang ada di Indonesia, " terangnya.

Di sisi lain, dengan bergabung menjadi mitra Tara Platform, pihak UMKM dapat menyentuh pelanggan melalui program loyalty reward. Permasalahan dari sebuah program loyalty reward, adalah konsumen seringkali kurang mengetahui informasi dan manfaatnya.

Laporan survei Bond Loyalty Report dalam kerja sama dengan VISA yang melibatkan 12.000 konsumen dari USA dan 7.000 konsumen dari Kanada, mendapatkan fakta bahwa hanya 30-50% anggota yang menukarkan poin dari  280 loyalty program dari berbagai industri.

" Penyebabnya adalah minimnya informasi dan sistem pengingat, program yang kurang menarik hingga jumlah alokasi penukaran reward yang tidak masuk akal, " imbuhnya.