Lifestyle

Umbar Kesalahan Mantan di Medsos Setelah Putus, Ini Tanggapan Psikolog

Umbar Kesalahan Mantan di Medsos Setelah Putus, Ini Tanggapan Psikolog
Kecanduan media sosial (INDEPENDENT)

AKURAT.CO Pengguna media sosial mulai memiliki tren baru yakni mengganti caption foto bareng mantan dengan mengumbar kesalahan-kesalahannya. 

Melihat hal tersebut, Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, Jovita Maria Ferliana, M.Psi, Psikolog, mengungkapkan, bisa jadi orang-orang tersebut berada pada fase keempat, yakni emosi, di antara delapan fase psikologis pasca putus hubungan.

Lebih lanjut, Jovita menjelaskan, mengumbar kesalahan mantan ke media sosial juga dapat memberikan dampak psikologis pada orang lain, yang sebenarnya sudah tidak lagi pada fase emosi tersebut. Karena hal ini dapat kembali menyulut perasaan dan membuat seseorang mundur dari fase yang dijalaninya kini ke fase emosi.

baca juga:

“Ada yang sebagian di fase keempat, tapi ada juga yang sebetulnya tidak di fase keempat, mereka sudah melewati itu, misalnya (sudah) di tahap depresi atau bahkan negosiasi, tapi kemudian begitu tersulut oleh berita itu, kemudian dia akhirnya balik lagi ke fase yang sebelumnya (fase keempat),” terang Jovita saat dihubungi oleh AKURAT.CO, Kamis (11/2/2021).

Tak hanya berdampak pada orang di luar hubungan tersebut lho, KawanAkurat. Mengumbar kesalahan mantan di media sosial, dapat memberikan berbagai reaksi yang berdampak buruk pada orang yang mengunggah hal tersebut. Alih-alih mendapatkan dukungan, namun pemilihan kata yang tidak tepat akan memperparah kondisi patah hati orang tersebut.

Kalau orang dalam keadaan sedang down, sebetulnya dia akan mencari orang-orang yang kayak menerima diri dia, menerima perasaan dia. Jadi sebenernya dalam setiap diri manusia itu mempunyai kebutuhan untuk diakui perasaannya,” terang Jovita.

“Kalau kita mendengar berita seperti itu, nah sebetulnya kita kalau mau menanggapi boleh aja, tapi kalau menanggapi itu dengan cara yang lebih netral, misalnya gini ‘turut bersimpati ya Mbak atas apa yang terjadi’ gitu atau ‘oh terima kasih ya, jadi pembelajaran saya ke depan’ jadi lebih ke kata-katanya yang diubah. Karena kalau kata-katanya negatif, ‘emang tuh cowok kurang ajar,’, kan jadi nyulut orang yang berikutnya untuk mengikuti hal yang sama,” jelasnya.

Lebih lanjut Jovita menerangkan, bukan ketenangan yang akan didapat oleh orang yang tengah patah hati tersebut, melainkan emosi yang semakin besar yang dapat mengganggu kesehatan mentalnya. Sehingga, kebutuhannya sebagai manusia yang membutuhkan perasaannya diakui berubah menjadi gumpalan emosi yang tak kunjung mereda.

Yuk, mulai sekarang bijak menggunakan media sosial demi kesehatan mentalmu dan orang lain.

Erizky Bagus

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu