News

Umat Hindu Bali Rayakan Hari Suci Nyepi di Kopenhagen


Umat Hindu Bali Rayakan Hari Suci Nyepi di Kopenhagen
Umat Hindu menerima tirta amerta yang di bagikan oleh pemangku adat, setelah melaksanakan ibadah Tawur Kesanga jelang hari raya Nyepi, di desa Bakas, Kabupaten Klungkung, Bali, Rabu (6/3/2019). Tradisi ibadah Tawur Kesanga dipercayai merupakan hari penyucian Dewa-dewa yang berada di pusat samudera, yang membawa intisari amerta air hidup. Maka dari itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka satu hari jelang hari raya nyepi. (AKURAT.CO/Andrian Martinus Tunay)

AKURAT.CO, Masyarakat Hindu Bali di Denmark merayakan Hari Suci Nyepi dan Tahun Baru Saka 1941 diawali dengan persembahan tari Tejang Renteng dan diikuti dengan persembahyangan bersama bhakti kepada Tuhan Hyang Maha Esa, yang diadakan KBRI Kopenhagen, Sabtu (9/3).

Pensosbud KBRI Kopenhagen, Dieny Maya Sari, Minggu (10/3), mengatakan Perayaan Tahun Baru Saka ini diikuti sekitar 100 orang dari kalangan diaspora Indonesia dan warga Denmark.

Dubes di Kopenhagen M. Ibnu Said dalam sambutannya mengatakan Perayaan Hari Suci Nyepi memberikan inspirasi kepada kita semua untuk selalu menjaga keharmonisan hidup sebagai jalan menuju kebahagiaan.

“Perbedaan latar belakang agama, latar belakang suku, latar belakang budaya bukanlah penghalang bagi kita untuk bersatu dan bukanlah penghalang bagi kita untuk hidup rukun dalam keharmonisan. Oleh karena itu, marilah kita selalu berpegang teguh pada Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, serta berkontribusi terhadap persatuan dan kemajuan bangsa Indonesia,” ujarnya.

Perayaan tersebut terselenggara atas kerja sama yang telah terjalin erat antara kelompok masyarakat Indonesia di Kopenhagen, Krama Bali Denmark (KDB), dengan KBRI Kopenhagen.

Ketua Krama Bali Denmark, I Gede Widana, mengatakan saat ini terdapat sekitar 50-an warga Hindu Bali di Denmark. “Kami sangat bahagia dapat merayakan Nyepi bersama di KBRI Kopenhagen dan terdapat juga warga Denmark yang ikut merayakan bersama,” ujarnya.

Tarian-tarian Bali dipersembahkan untuk meramaikan perayaan Nyepi, seperti tari Panyembrana, Topeng Keras, Sekar Jagad, Topeng Tua, Kupu-kupu, dan Joged Bungbung.

Hidangan yang disediakan juga penuh dengan menu khas Bali, seperti lawar ayam, ayam betutu, urab Bali, plecing kangkung, daging sapi pedas, dan ikan bumbu rica.

Hari Raya Nyepi 1941 Saka memiliki bertemakan "Dengan Catur Bharata Penyepian Sukseskan Pemilu 2019", dengan pesan utama Dharma Santi Dharma, yang artinya kebajikan di hati untuk menciptakan hidup rukun dan damai, sehingga Pemilu 2019 menjadi Pemilu yang damai.

Hal itu dapat diwujudkan jika seluruh umat beragama di Indonesia hidup harmonis, dengan selalu mensucikan pikiran dan perkataan serta menjaga kesantunan serta perbuatan, yang akhirnya berujung pada kebaikan dan keadilan.

Hari Suci Nyepi didasarkan pada perhitungan Tilem Kesanga merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di samudra, yang juga membawa inti sari amartha (air kehidupan). Nyepi juga merupakan tahun baru dalam kalender Saka, yang dimulai pada tahun 78 Masehi.

Tujuan utama Nyepi adalah untuk memohon kepada Sang Hyang Widhi untuk mensucikan bhuana alit (alam manusia) dan bhuana agung (alam semesta), melalui prosesi melasti, tilem sasih kesanga, pinanggal pisan, dan Catur Bharata, sehingga diharapkan di tahun Saka yang baru, umat Hindu dapat memulai kehidupan dengan bersih dan kembali suci.[]