News

Ukraina Tak Akan Sepakati Gencatan Senjata dengan Rusia, Perang Sulit Diakhiri

Ukraina bertekad tak akan menyetujui kesepakatan gencatan senjata jika syaratnya penyerahan wilayah.


Ukraina Tak Akan Sepakati Gencatan Senjata dengan Rusia, Perang Sulit Diakhiri
Mykhaylo Podolyak yakin konsesi semacam itukesepakatan gencatan senjata dengan Rusia akan menjadi bumerang bagi Ukraina. (BBC)

AKURAT.CO Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan perang hanya dapat diselesaikan melalui diplomasi. Namun, pemerintahnya bertekad tak akan menyetujui kesepakatan gencatan senjata jika syaratnya penyerahan wilayah.

Dilansir dari BBC, sejumlah negara Barat menyerukan gencatan senjata bagi pasukan Rusia yang tersisa di beberapa wilayah yang mereka duduki di selatan dan timur Ukraina. Perdana Menteri Italia Mario Draghi, misalnya, mengatakan kepada Senat pada Kamis (19/5) bahwa gencatan senjata harus dicapai sesegera mungkin.

Namun, penasihat presiden Ukraina, Mykhaylo Podolyak, yakin konsesi semacam itu akan menjadi bumerang.

baca juga:

"Perang tak akan berhenti. Itu hanya akan berhenti beberapa lama. Mereka [Rusia] akan memulai serangan baru, bahkan berskala lebih besar dan lebih berdarah-darah," ungkapnya.

Menurut reporter BBC Joe Inwood di Kyiv, saat ini tak ada jalan tengah antara apa yang diinginkan Rusia dan apa yang akan dikabulkan Ukraina. Sementara keduanya sama-sama merasa punya peluang dalam pertarungan, negosiasi masih mustahil dilakukan.

Sementara itu, Rusia terus berupaya mengepung pasukan Ukraina yang mempertahankan Severodonetsk di timur. Menurut Staf Jenderal Angkatan Bersenjata Ukraina, pasukan Rusia berusaha menerobos pertahanan Ukraina untuk mencapai perbatasan administratif wilayah Luhansk paling timur negara tersebut. Gubernur Luhansk Serhiy Haidai mengatakan Rusia berusaha masuk ke Severodonetsk dari 4 arah berbeda.

Melalui aplikasi Telegram, ia melaporkan upaya itu gagal, tetapi bombardir di daerah pemukiman terus berlanjut. Jembatan yang menghubungkan kota itu ke Lysychansk pun telah hancur. Namun, BBC tak bisa memverifikasi klaim ini secara independen.

Dalam perkembangan lainnya, Presiden Polandia Andrzej Duda menjadi pemimpin asing pertama yang berpidato di parlemen Kyiv secara langsung. Dalam pidatonya itu, ia menyatakan bahwa hanya rakyat Ukraina sendiri yang bisa memutuskan masa depan mereka. Polandia bertekad mengerahkan segala cara untuk membantu Ukraina bergabung dengan Uni Eropa.

Namun, menurut Menteri Eropa Prancis Clement Beaune, mungkin diperlukan 15-20 tahun bagi Ukraina untuk diterima sebagai anggota Uni Eropa.[]