News

Ujian Penuh Kontroversi, Puluhan Pelajar India Bunuh Diri


Ujian Penuh Kontroversi, Puluhan Pelajar India Bunuh Diri
Thota Vennela, pelajar berusia 18, menelan racun karena gagal dalam ujian (BBC)

AKURAT.CO, Setidaknya 23 remaja di negara bagian Telangana, India selatan, bunuh diri sejak hasil ujian kelulusan diumumkan pada bulan April. Ujian kelulusan itu dianggap kontroversial, pasalnya ada lebih dari 320.000 siswa di Telangana yang gagal dalam ujian kelulusan tersebut.

Mereka semua terdaftar di sekolah-sekolah yang mengajarkan silabus yang ditetapkan oleh dewan pendidikan negara bagian. Beberapa sekolah India juga mengajarkan silabus yang ditetapkan oleh dewan pendidikan nasional.

Pendidikan tinggi di India sangat kompetitif di mana ujian kelulusan sekolah berperan sangat penting untuk mendapatkan tempat di universitas yang bagus. Ujian juga dianggap sebagai tiket yang dapat mengantarkan individu ke pekerjaan bergaji tinggi dan masa depan yang cerah.

Di samping itu, meski universitas-universitas top juga melakukan tes penerimaan mandiri, siswa yang berprestasi baik dalam hal itu masih dapat kehilangan kursi jika mereka gagal dalam ujian kelulusan sekolah.

Pada hari-hari setelah pengumuman hasil ujian, siswa dan orang tua yang terkejut memprotes. Mereka menuduh ada kesalahan dalam penilaian dan menuntut penilaian ulang.

"Putra saya mencetak nilai penuh dalam matematika, fisika, dan kimia dalam ujian kelas ke-11. Tapi tahun ini hasilnya menunjukkan bahwa dia mendapat nilai satu dalam matematika dan nol dalam fisika. Bagaimana mungkin?" kata Venugopal Reddy selaku salah satu orang tua siswa, dilansir dari laman BBC, Kamis (18/7).

"Dia telah belajar untuk tes kompetitif lainnya. Tetapi setelah hasil ini, dia sedih. Dia telah berhenti belajar dan makan, dan menolak meninggalkan rumah. Saya khawatir tentang kesehatan mentalnya," tambahnya.

Sebuah kelompok hak anak mengajukan petisi kepada pengadilan tinggi negara bagian, yang memerintahkan dewan untuk mengoreksi kembali jawaban semua orang yang gagal.

Sebanyak 1.137 siswa yang semula dianggap gagal dinyatakan lulus. Seorang siswa yang pada awalnya mencetak skor nol dalam suatu mata pelajaran, berakhir dengan nilai 99 ketika jawaban-jawabannya ditandai kembali.

Kontroversi ujian ini diduga kuat berawal dari kemenangan tender perusahaan perangkat lunak swasta Globarena Technology pada tahun 2017 lalu. Kemenangan tender tersebut memungkinkan Globarena melakukan ujian di seluruh negara bagian untuk lebih dari 970.000 siswa. Mereka juga bertanggung jawab untuk memproses skor akhir untuk mengumumkan hasil.

Dewan pendidikan negara bagian membantah bahwa bunuh diri para siswa terkait dengan hasil ujian. Di sisi lain Globarena mengakui adanya kesalahan.

"Kami mengikuti proses yang ditentukan oleh dewan. Insiden yang telah terjadi sangat disayangkan. Awalnya ada kesalahan teknis. Kami telah melakukan koreksi," VSN Raju CEO Globarena.

Pihak keluarga dari siswa-siswa yang bunuh diri mengatakan akan mengajukan tuntutan pidana terhadap dewan pendidikan negara bagian dan Globarena. []

Dian Dwi Anisa

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu