News

Tutup Hakordia 2021, Ma'ruf Amin: Korupsi Merusak Sendi-sendi Kehidupan Masyarakat

Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyamakan penanganan korupsi seperti karat yang dapat merusak besi, sehingga menghambat pembangunan bangsa.


Tutup Hakordia 2021, Ma'ruf Amin: Korupsi Merusak Sendi-sendi Kehidupan Masyarakat
Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin menutup resmi rangkaian Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) Tahun 2021 di Gedung Juang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Jakarta, Kamis (9/12/2021). (Dok. Istimewa)

AKURAT.CO, Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin menutup resmi rangkaian Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) Tahun 2021 di Gedung Juang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Jakarta, Kamis (9/12/2021).

Dalam sambutannya, Ma'ruf Amin menyamakan penanganan korupsi seperti karat yang dapat merusak besi, sehingga menghambat pembangunan bangsa.

"Momentum Peringatan Hari Antikorupsi sejalan dengan komitmen pemerintah untuk terus berikhtiar mencegah dan memerangi korupsi. Korupsi bagaikan karat yang menggerogoti besi-besi pembangunan," kata Wapres di Gedung KPK.

baca juga:

Ia menerangkan, korupsi juga merupakan ancaman terhadap kemanusiaan dan hak publik. Sebab, tindak pidana tersebut merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat dan negara.

Wapres juga mengatakan korupsi tidak hanya bentuk pelanggaran hukum dan etika, tetapi juga tindak pidana tersebut bertentangan dengan hak asasi manusia (HAM) dan keadilan.

Sebagai bangsa religius dan berbudaya luhur, papar Wapres, masyarakat Indonesia seharusnya memiliki pengingat kuat untuk tidak melakukan tindak pidana korupsi. Semua agama yang dianut masyarakat Indonesia pada dasarnya melarang dengan tegas seluruh umatnya untuk korupsi.

"Korupsi bagi umat beragama merupakan bentuk kezaliman terhadap kepercayaan dan amanah rakyat yang menginginkan keadilan dan kesejahteraan," tegasnya.

Oleh karena itu, Wapres mengajak seluruh masyarakat untuk membangun budaya antikorupsi guna membentuk akhlak baru yang bersih dari seluruh bentuk tindak pidana korupsi.

Sebelumnya, Jokowi mengatakan, diperlukan cara-cara baru yang lebih luar biasa (extraordinary) dalam memberantas tindak pidana korupsi. Karenanya, metode pemberantasannya harus terus diperbaiki dan disempurnakan.