News

Tutup 18 Bulan karena Pandemi, Sekolah-sekolah Bangladesh Akhirnya Dibuka Kembali 

Sekolah-sekolah di Bangladesh kembali dibuka karena situasi Covid-19 di negara itu mulai mereda.


Tutup 18 Bulan karena Pandemi, Sekolah-sekolah Bangladesh Akhirnya Dibuka Kembali 
Siswa telah diinstruksikan untuk memastikan kebersihan dan menjaga jarak di ruang kelas ( Mahmud Hossain Opu/Al Jazeera)

AKURAT.CO, Untuk pertama kalinya dalam 18 bulan, Adnan Hasan mendapati dirinya mengenakan seragam sekolah – kemeja putih bersih dan celana biru. Hasan yang kini duduk di kelas lima tampak berdiri dalam antrean.

Terlihat pula dua pekerja berdiri di pintu gerbang, membagikan hand sanitizer dan memeriksa suhu mereka dengan termometer.

Seperti siswa-siswa lainnya, Hasan mengenakan masker, menunggu di depan gerbang lengkung Sekolah Udayan di ibukota Dhaka pada Minggu (12/9). Hari itu, Hasan bersama dengan ratusan ribu anak lainnya kembali ke ruang kelas mereka. Sudah 543 hari mereka tak bertemu dengan guru secara langsung. Ini karena Bangladesh menetapkan penguncian ketat dan salah satu yang terlama di dunia.

Terakhir kali Hasan melewati gerbang sekolahnya pada Maret tahun lalu. Saat itu, tentu saja, Hasan tidak harus mengantre di depan gerbang dengan memakai masker. Pun, ia tidak perlu diperiksa suhu atau memakai handsanitizer sebelum masuk ke kelas. 

Pandemi memang telah mengubah segalanya, memaksa jutaan anak seperti Hasan di seluruh dunia untuk belajar di rumah.

Dalam sebuah laporan pekan lalu, UNICEF memberi peringatan soal penutupan sekolah yang berkepanjangan karena krisis Covid-19. Dalam keterangannya, UNICEF menyebut tentang 'ketidaksetaraan yang mengkhawatirkan' bagi lebih dari 430 juta anak di Asia Selatan.

"Penutupan sekolah-sekolah di Asia Selatan telah memaksa ratusan juta anak dan guru mereka untuk beralih ke pembelajaran jarak jauh di wilayah dengan konektivitas rendah dan keterjangkauan perangkat. Akibatnya, anak-anak mengalami kemunduran besar dalam perjalanan belajar mereka," ucap Direktur Regional UNICEF, George Laryea-Adjei, dalam sebuah pernyataan.

Tutup 543 Hari karena Penguncian Corona, Sekolah-sekolah Bangladesh Akhirnya Dibuka Kembali  - Foto 1
 Mahmud Hossain Opu/Al Jazeera

Sekarang setelah kembali ke sekolah, Hasan sangat gembira.

"Saya tidak bisa menggambarkan dengan kata-kata bagaimana perasaan saya karena kembali ke sekolah. Saya bisa bertemu dengan semua teman saya setelah berabad-abad. Ini  luar biasa," ujarnya kepada Al Jazeera. 

'Tidak ada alternatif untuk kelas tatap muka'

Seperti Hasan, ribuan siswa sekolah dasar dan menengah di seluruh Bangladesh telah kembali ke kelas mereka. Untuk menyambut ini, beberapa sekolah di Dhaka bahkan terlihat sampai menghiasi bangunannya dengan balon dan pita. 

Sementara banyak sekolah lain memilih untuk memberi permen dan bunga kepada anak-anak sekolah yang datang. Meski berbeda-beda cara, satu hal yang sama-sama terlihat, anak-anak begitu gembira. 

Namun, peringatan tentang langkah-langkah keamanan di sekolah tetap disampaikan oleh Menteri Pendidikan Bangladesh, Dipu Moni. Dalam pernyataannya pada Minggu, Moni meminta agar sekolah tidak kendor terhadap upaya pencegahan penularan. 

Moni lalu menjabarkan soal aturan masuk bagi siswa-siswa sekolah. Untuk kelas 1 hingga 9, pertemuan tatap muka akan dilaksanakan seminggu sekali. Sementara bagi mereka yang dijadwalkan untuk mengikuti ujian umum pada akhir kelas 5, 10, dan 12 akan menghadiri kelas setiap hari.

"Siswa 1 satu hingga 4, dan kelas 6 hingga 9, akan menghadiri kelas seminggu sekali untuk periode awal tiga minggu,” kata Moni menambahkan bahwa semua kelas lain akan dilanjutkan secara bertahap.

Menurut asosiasi operator telekomunikasi Bangladesh, hanya 41 persen dari 169 juta penduduknya yang memiliki telepon pintar, dengan siswa di distrik pedesaan semakin menderita karena kurangnya internet berkecepatan tinggi.

Tutup 543 Hari karena Penguncian Corona, Sekolah-sekolah Bangladesh Akhirnya Dibuka Kembali  - Foto 2
 Mahmud Hossain Opu/Al Jazeera

Studi yang dilakukan oleh LSM Bangladesh BRAC juga mengungkap situasi serupa. BRAC menemukan bahwa sekitar 56 persen siswa di negara itu tidak terhubung dengan kelas online atau rekaman selama pandemi.

"Untuk siswa-siswa yang kurang mampu ini, tidak ada pilihan selain menghadiri kelas langsung untuk mendapatkan pelajaran. Jadi saya yakin pemerintah telah membuat keputusan yang sangat baik dengan membuka kembali sekolah-sekolah tersebut," kata seorang pendidik bernama Syed Md Golam Faruk.

Siswa juga setuju dengan masalah keterbatasan perangkat belajar online.

"Ya, ada kelas online. Kami bahkan dipromosikan ke kelas berikutnya melalui ujian online. Tapi tidak ada alternatif selain kelas tatap muka. Kami menghadiri kelas untuk melihat teman-teman kami, mengobrol dengan mereka, nongkrong di kantin sekolah atau di lapangan sekolah. Kami tidak menghadiri kelas hanya untuk belajar. Sayangnya, kelas online mengambil semua bagian belajar yang menyenangkan itu," kata Zarif Raihan, siswa SMA Monipur di Dhaka, berkata kepada Al Jazeera.

Lalu saat ditanya bagaimana situasi sekolah yang dibuka selama pandemi, Raihan menjawab bahwa memang ada yang berubah, tapi kegembiraan itu masih ada.

"Banyak hal telah berubah (sejak pandemi), tetapi kegembiraan berada di lingkungan sekolah tetap sama," ungkapnya.

Tutup 543 Hari karena Penguncian Corona, Sekolah-sekolah Bangladesh Akhirnya Dibuka Kembali  - Foto 3
 Mahmud Hossain Opu/Al Jazeera

Membuka dengan hati-hati

Bangladesh pada hari Minggu mencatat 51 kematian akibat Covid-19, menjadikan total jumlah kematian menjadi 26.931. Dengan 1.871 infeksi baru yang tercatat, jumlah total infeksi mencapai lebih dari 1,5 juta.

Untuk membuka kembali sekolah, pemerintah telah memvaksinasi hampir 97 persen guru dan staf di seluruh negeri. Pihak sekolah juga melakukan sejumlah tindakan pencegahan.

Siswa telah diinstruksikan untuk memastikan kebersihan dan menjaga jarak dari rekan-rekan mereka di kelas. Bangku-bangku yang dulunya muat untuk empat-lima siswa sekarang paling banyak hanya diisi dua siswa. Mereka juga dilarang membawa makanan dari rumah.

Syeda Akhter, kepala Sekolah Menengah Pemerintah Narinda Dhaka, mengatakan bahwa mereka telah berupaya ketat mengikuti pedoman dan protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

"Kami mengukur suhu setiap siswa di pintu masuk sekolah. Kami juga memastikan bahwa mereka mencuci atau membersihkan tangan mereka. Di kelas, siswa diinstruksikan untuk duduk terpisah tiga kaki untuk menjaga jarak sosial," kata Akhter.

Tutup 543 Hari karena Penguncian Corona, Sekolah-sekolah Bangladesh Akhirnya Dibuka Kembali  - Foto 4
 Mahmud Hossain Opu/Al Jazeera

Sementara itu, Sheikh Sharok Ahmed, kepala guru Sekolah Laboratorium Mars di ibu kota, mengatakan mereka mengizinkan 50 persen kehadiran di kelas.

"Kami menjalankan empat shift bukan dua shift reguler, sehingga semua siswa dapat diakomodasi," katanya kepada Al Jazeera.

Ahmed mengatakan tingkat infeksi virus corona di negara itu menurun dan berharap sekolah-sekolah akan segera kembali normal.

"Pemerintah menyebutkan peringatan bahwa jika tingkat infeksi meningkat, maka sekolah mungkin menghadapi penutupan lagi. Tapi saya berharap situasinya akan membaik," ujarnya.

Namun, kegembiraan dan antusiasme siswa dan guru tidak semua ikut dirasakan oleh para orang tua. Beberapa dari mereka mengaku khawatir dengan pembukaan sekolah karena dinilai terlalu terburu-buru. Ini akan membuat anak-anak mudah tertular Covid-19, kata mereka. 

"Angka infeksi memang menurun jika kita bandingkan dengan Juli atau Agustus ketika kita menyaksikan gelombang ketiga virus corona. Tetapi Covid-19 masih ada dan saya merasa tidak nyaman mengirim anak-anak saya ke sekolah," ucap Mahbubul Haque, ayah dari seorang siswa kelas delapan.

Kendati demikian, tidak sedikit pula orang tua yang mendukung pembukaan kembali sekolah. 

“Karena penutupan sekolah, anak-anak kami frustrasi. Mereka semua dikurung di dalam rumah dan kecanduan perangkat mereka. Pembukaan sekolah ini menjadi berkah bagi mereka,” kata Shahnaz Begum, ibu dari seorang siswa sekolah menengah.

Golam Faruk yang seorang guru juga percaya pembukaan kembali sekolah adalah pilihan terbaik. 

"Penutupan sekolah di Bangladesh merupakan salah satu yang terpanjang di dunia. Tidak ada pilihan di hadapan kami selain membuka sekolah, karena penutupan yang berkepanjangan selama pandemi memperburuk ketidaksetaraan bagi jutaan anak di seluruh Bangladesh," katanya. []