News

Tuntut Pembebasan Jumardi, Aliansi Mahasiswa Sambas: BKSDA Kurang Sosialisasi!

Aliansi Mahasiswa Sambas, Keluarga dan elemen masyarakat bergandengan tangan melakukan aksi untuk menuntut pembebasan Jumardi sang penjual burung betet


Tuntut Pembebasan Jumardi, Aliansi Mahasiswa Sambas: BKSDA Kurang Sosialisasi!
Aliansi Mahasiswa Sambas beserta keluarga dan elemen masyarakat Kabupaten Sambas mendatangi Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat di Pontianak, Selasa, guna menuntut dan mendesak pembebasan teradap Jumardi kasus penjualan burung Bayan atau betet (psittaciformes) yang merupakan satwa dilindungi. (AKURAT.CO/Antara)

AKURAT.CO, Aliansi Mahasiswa Sambas beserta keluarga dan elemen masyarakat Kabupaten Sambas menggelar aksi menuntut dan mendesak pembebasan terhadap Jumardi yang tersangkut kasus penjualan satwa dilindungi burung Bayan atau Betet (Psittaciformes).

"Kami dari Aliansi Mahasiswa Kabupaten Sambas bersama keluarga dan elemen masyarakat Kabupaten Sambas menginginkan Jumardi dibebaskan secara penuh, jangan sampai ada Jumardi-Jumardi berikutnya," kata Koordinator Lapangan Aliansi Mahasiswa Sambas, Angga di Pontianak, Selasa (2/3/2021).

Dalam aksi tersebut, Aliansi Mahasiswa Sambas mendatangi Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat di Pontianak.

baca juga:

Sebelumnya, Jumardi yang biasa dipanggil Jumar, warga Dusun Tempakung, RT 01, RW 01, Desa Tempatan, Kecamatan Sebawi, Kabupaten Sambas ditangkap oleh jajaran Polda Kalbar karena diduga menjual burung Bayan yang dilindungi.

Burung Bayan atau Betet (Psittaciformes) telah dilindungi oleh UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan dimasukkannya sebagai daftar lampiran pada Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.

Dalam aksinya, para mahasiswa menganggap kurangnya sosialisasi dari BKSDA Kalbar mengenai satwa yang dilindungi menjadi salah satu penyebab masalah itu terjadi.

“Fakta yang ada di Kabupaten Sambas sosialisasi hanya dilakukan di toko-toko burung saja, tidak kepada masyarakat. Padahal sudah jelas di perubahan peraturan menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 tahun 2018 mengenai jenis-jenis satwa yang dilindungi, tapi tidak semua masyarakat tahu termasuk Jumardi, malah sekarang statusnya sudah menjadi tersangka,” katanya.

Sarwan yang merupakan abang dari Jumardi juga ikut dalam aksi itu. Beliau memberitahukan bahwa adiknya menjual burung itu karena ketidaktahuan tentang satwa yang dilindungi dan faktor ekonomi.

“Adik saya menangkap burung bukan untuk memperkaya diri, namun untuk memberi makan keluarganya karena kesulitan selama pandemi ini, yang menjadi faktor utamanya adalah perekonomian dan didasari ketidaktahuannya,” kata Sarwan.

Sumber: Antara

Arief Munandar

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu