News

Tujuh Calon Bunga Rafflesia Gagal Mekar


Tujuh Calon Bunga Rafflesia Gagal Mekar
Ilustrasi bunga rafflesia (ANTARAFOTO/David Muharmansyah)

AKURAT.CO Tujuh knop atau calon bunga rafflesia jenis tuan-mudae gagal mekar di Cagar Alam Maninjau Marambuang, Nagari Baringin, Kecamatan Palembayan, Sumatera Barat.

Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Resor Agam, Ade Putra, mengatakan tujuh knop bunga rafflesia yang gagal mekar berada di titik petak pengamatan dengan diameter sekitar lima meter.

"Knop bunga rafflesia itu dengan kondisi membusuk berdasarkan pengamatan di lokasi," ujarnya.

Menurutnya tumbuhan yang dilindungi itu gagal mekar akibat curah hujan cukup tinggi melanda daerah itu pada akhir 2018 sehingga menyebabkan udara di lokasi itu menjadi lembab.

Selain itu juga akibat aktivitas satwa di kawasan Cagar Alam Maninjau. "Kami menemukan jejak kaki babi hutan di sekitar tumbuhan langka ini," katanya.

Selain knop bunga gagal mekar, di lokasi itu juga ditemukan tujuh bunga yang sudah melalui fase mekar sempurna. Diperkirakan bunga itu mekar sempurna pada beberapa minggu yang lalu.

"Bunga itu mekar sempurna berbagai ukuran dan kita tidak bisa menentukan diameter akibat bunga sudah membusuk," katanya.

Sebelumnya, BKSDA Resor Agam menemukan 46 knop bunga rafflesia di Cagar Alam Maninjau Marambuang. Dari 46 knop, sekitar 26 knop yang sudah mekar sempurna dan gagal mekar. Saat ini masih tinggal sekitar 25 knop yang akan mekar beberapa bulan lagi.

"Pada Sabtu (26/1), pihaknya menemukan dua individu baru di lokasi tersebut. Di lokasi ini juga pernah mekar bunga rafflesia terbesar di dunia dengan diameter 107 sentimeter pada akhir 2017," kata dia.

BKSDA Resor Agam telah memasang papan imbauan di lokasi agar tidak diganggu warga, karena tumbuhan itu dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Data Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Lokasi ini akan dijadikan sebagai pusat atau stasiun pengamatan dan penelitian bunga rafflesia dan direncanankan akan dikembangkan pada 2019.

Pada 2018, mahasiswa dari Universitas Negeri Padang, Universitas Andalas Padang, Universitas Muhanmadiyah Sumatera Barat, Universitas Sumatera Utara, dan Universitas Nasional Jakarta telah melakukan penelitian di lokasi. []

Sumber: Antara