News

Truk Pop-up Ganja Jadi Idaman Para Turis di Bangkok

Negara ini mulai melegalkan ganja untuk obat pada tahun 2018


Truk Pop-up Ganja Jadi Idaman Para Turis di Bangkok
Sejumlah turis mengantre untuk membeli ganja di Happy Bud, truk pop-up yang menjual ganja di Jalan Khaosan, salah satu tempat wisata favorit di Bangkok, Thailand, Senin (13/6) (Reuters)

AKURAT.CO, Truk pop-up dengan dagangan produk ganja kini muncul di Bangkok, dan menjadi idaman para turis mancanegara. 

Truk dengan nama N'Louis' Happy Bud itu bahkan dilaporkan menjajakan sejumlah  jenis ganja, dengan nama seperti 'Amnesia', 'Jack Haze', hingga 'Night Nurse'. 

Kehadiran 'truk ganja' itu datang usai pekan lalu, Thailand menjadi menjadi negara Asia pertama yang melegalkan pertumbuhan ganja dan konsumsinya dalam produk makanan dan minuman. Ganja pun kini tidak lagi dipandang sebagai narkotika. 

baca juga:

Pemerintah Thailand berharap langkah melegalkan budidaya tanaman mariyuana bisa membantu sektor pertanian sekaligus penelitian medis. Para produsen juga telah memberi dukungan, menyebut industri pariwisata yang terpukul pandemi Covid-19 juga harus mendapat dorongan.

Namun, di tengah sambutan hangat itu, tampaknya masih ada kebingungan pemerintah Thailand tentang bagaimana tanaman ini bisa digunakan secara legal, kata Reuters. Mengingat, menghisapnya di tempat umum, bagaimanapun, masih dianggap ilegal dan dianggap sebagai pelanggaran terhadap undang-undang kesehatan. Pada waktu bersamaan, parlemen masih memperdebatkan rancangan undang-undang peraturan ganja. 

Terlepas dari kebingungan itu, para pelanggan pada ujungnya tetap merespons baik langkah Thailand.  Keira Gruttner, pelanggan berusia 32 tahun dari Kanada ini misalnya, rela mengantre di Bangkok untuk membeli produk ganja.Gruttner adalah satu diantara para turis yang  berdiri, menunggu pesanannya dipenuhi oleh penjual truk pop-up ganja di surga wisata di Jalan Khaosan. Di truk yang dicat dengan nuansa hijau itu, para staf sibuk menimbang dan mengemas kuncup dan daun ganja yang telah digerus.

"Saya pikir ini mungkin akan menrik orang-orang dari negara-negara dimana ganja tidak legal. Ini bisa menjadi daya tarik pariwisata lain bagi orang-orang," katanya.

Truk itu 'mangkal' di daerah Bangkok yang populer di kalangan para backpacker. Mereka menjual ganja per gram dengan harga 700 baht (Rp295 ribu) per gram, dengan staf mengatakan bahwa obat itu bisa memberi beberapa efek kepada para penggunanya. Itu termasuk membantu mereka tidur lebih nyenyak atau mengurangi kecemasan.

Pelanggan asing lainnya, Kentaro Kajima, menggambarkan pembeliannya sebagai 'mimpi yang menjadi kenyataan'. Ia pun terlihat tampak senang, berdansa dengan seorang teman di depan truk.

Thailand secara tradisional telah menggunakan ganja untuk menghilangkan rasa sakit dan kelelahan. Negara ini mulai melegalkan ganja untuk obat pada tahun 2018. []