News

Tren Kematian Pasien Covid-19 Isoman di Jakarta Pernah Sampai 75 Orang Sehari

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan data kematian pasien Covid-19 di DKI Jakarta yang melakukan isolasi mandiri di rumah


Tren Kematian Pasien Covid-19 Isoman di Jakarta Pernah Sampai 75 Orang Sehari
Petugas bersiap memakamkan jenazah pasien COVID-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta, Jumat (16/7/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan data kematian pasien Covid-19 di DKI Jakarta yang melakukan isolasi mandiri di rumah pada ledakan Covid-19 gelombang kedua yang menghantam Jakarta sejak Juli 2021 lalu.

Anies tidak menampik jika tren kematian pasien yang isolasi mandiri menanjak naik pada ledakan gelombang kedua.

Harus diakui pada ledakan corona gelombang kedua ini 140 rumah sakit rujukan di Jakarta nyaris kolaps karena membludaknya pasien penyakit menular itu sehingga banyak pasien yang tak mendapatkan fasilitas kesehatan di rumah sakit dan terpaksa isolasi mandiri.

Anies menyebut kasus kematian pasien yang isolasi mandiri bahkan sampai 75 orang dalam sehari.

"Sebelumnya pernah sampai 75 kematian sehari," kata Anies di kanal youtube Pemprov DKI Jakarta  dikutip AKURAT.CO Santu (31/7/2021).

Saat ini lanjut Anies jumlah kasus kematian itu kian menurun menyusul melandainya kasus corona di Jakarta dalam dua pekan belakangan ini, di mana jumlah kasus aktif yang semula 113.000 orang kini berangsur turun dan tersisa 19.000 kasus saja hingga saat ini.

Disamping itu,  jumlah kasus harian di Jakarta juga terus merosot dari yang semula berkisar dari 12.000 hingga 14.000 sehari kini turun menjadi 2.000 hingga 5.000 kasus sehari.

"Tren kematian pada warga yang isolasi mandiri juga berkurang, saat ini kurang dari 5 seharinya," bebernya.

Menurun kasus corona di Jakarta, tidak hanya berimbas pada turunnya jumlah kematian pasien corona isolasi mandiri, tetapi hal ini juga membuat ketersian rumah sakit di Ibukota yang tadinya sesak terisi menjadi lebih lowong.

"Begitu juga dengan tren keterisian rumah sakit, turun menjadi sekitar 70 persen  lalu antrean IGD juga sudah terurai. Positivity rate juga turun, saat ini kita berada di kisaran 15 persen sementara di saat puncak puncak dulu kita pernah mencapai angka 45 persen," tuturnya.

Di tempat terpisah,Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengaku Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat sebanyak 26.961 pasien Covid-19 di Jakarta melakukan isolasi mandiri di fasilitas pribadi.

Sementara pasien corona yang menjalani karantina di fasilitas yang disediakan pemerintah mencapai 13.849 orang. Data itu baru direkap hari ini Sabtu (31/7/2021).

"Isoman mandiri 26.961 yang dirawat di rumah sakit 13.849," kata Ariza ketika doorstop virtual dengan wartawan Balai Kota, Sabtu (31/7/2021).

Ariza mengklaim semua pasien itu adalah orang tanpa gejala (OTG) dan gejala ringan, sehingga risiko kematiannya juga rendah. Politisi Gerindra ini mengakui jumlah pasien yang mengkarantina diri di rumah belakangan ini memang mengalami peningkatan.

"Rata-rata yang isoman OTG yang kasusnya tanpa gejala, memang minggu lalu ada peningkatan," ujarnya.

Banyaknya pasien corona yang memilih melakukan isolasi mandiri bikin Ariza khawatir, sebab bisa saja mereka tak terkontrol dengan baik dan justru menularkan penyakit ini kepada anggota keluarga lainnya karena fasilitas yang tak memadai.

Untuk itu dia meminta pasien corona yang minim fasilitas bisa mengkarantina diri di tempat -tempat yang telah disediakan Pemerintah Provinsi DKI.

"Kita minta yang isoman tidak lagi dilakukan di rumah, semaksimal mungkin di tempat yang telah kami siapkan di rumah kecuali yang betul-betul memenuhi syarat dan koordinasinya baik," pintanya.

Tidak hanya itu, Ariza juga curiga banyak pasien corona yang diam-diam mengkarantina diri di rumah tanpa adanya koordinasi dengan satgas Covid-19 di lingkup Rt/Rw. Ini yang berbahaya karena mereka benar - benar di luar pantauan Satgas.

"Kami minta yang isoman terus melakukan komunikasi yang intens dengan satgas dengan puskesmas kemudian RT dan RW setempat lurah setempat perlu ada komunikasi bahkan yang ketiga kami minta yang isoman dengan keluarga juga komunikasi jangan sampai isoman tidak boleh berinteraksi langsung apakah di rumah atau tempat-tempat lain," ucapnya.[]