Lifestyle

Trauma Masa Kecil Tak Selalu dari Keluarga, Ini Cara Menyembuhkannya

Seorang aktivis sekaligus mantan artis cilik Dena Rachman, membagikan bagaimana mengatasi trauma masa kecilnya.


Trauma Masa Kecil Tak Selalu dari Keluarga, Ini Cara Menyembuhkannya
Ilustrasi anak-anak tengah bermain (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Trauma masa kecil adalah pengalaman yang dirasakan sangat mengancam saat masa kecil. Hal yang terjadi tersebut dapat memicu trauma mendalam yang mungkin saja bisa terbawa hingga dewasa. 

Melansir dari laman Very Well Mind, pengalaman seperti kekerasan fisik, kecelakaan, bencana alam, hingga bullying dapat menjadi sebuah trauma bagi seseorang terutama anak-anak. 

Seorang aktivis sekaligus mantan artis cilik Dena Rachman, membagikan bagaimana mengatasi trauma masa kecilnya.   

Trauma masa kecil tak selalu berasal dari keluarga

Beberapa waktu menghilang dari dunia hiburan, Dena Rachman sempat menjadi perbincangan hangat publik, setelah mengungkapkan identitas barunya sebagai seorang transgender. 

Pemilik nama asli Renaldy Denada Rachman ini memutuskan mengubah dirinya dari laki-laki menjadi perempuan beberapa tahun yang lalu. Semasa kecil, ibu Dena yang mengetahui bakat anaknya mendorong Dena untuk menjadi artis. 

“Tidak ada maksud buruk, tapi hal ini tanpa disengaja menekan aku dan membentuk sebuah trauma,” sambung Dena Rachman pada Festival Pulih, dikutip pada Sabtu (27/11). 

Kemudian, Dena terbentuk menjadi pribadi yang ambisius. Dia mengartikan bahwa untuk menjadi apa yang dirinya mau, Dena harus sukses. Namun ambisiusnya kurang tepat, karena sudut pandang Dena hanya terpatri pada aspek materialnya saja. 

“Punya mobil, bisa S2 di luar negeri, punya rumah itu definisi suksesku dulu. Sempit sekali maknanya. Aku tidak menyalahkan orang tua ku mengenai hal ini, sama sekali, karena mereka tidak melakukannya on purpose. Mereka hanya menginginkan yang terbaik buatku,” kata Dena 

“Ambisiku saat itu menyebabkan pergumulan yang luar biasa di aku secara personal. Hal ini kemudian menjadi bentuk lain dari trauma masa kecil,” imbuhnya. 

Bahkan dia sempat berpikir bahwa keluarganya bukanlah tipe keluarga yang dia dambakan. Padahal, di sisi lain, teman-teman Dena mengungkapkan betapa keluarga Dena adalah keluarga impian. 

“Kata mereka, keluargaku terbuka dan sangat suportif. Hal ini baru kusadari setelah aku pulih. Kini aku sadar bahwa hal ini tak selalu dimiliki oleh teman-teman ‘minoritas’ di luar sana. Mereka bahkan tak bisa merasakan family value karena dibuang oleh keluarga mereka,” ucapnya. 

Sebagaimana hidup tak selalu tentang suka cita, pengalaman yang dialami selama masa kanak-kanak tidak hanya meliputi pengalaman menyenangkan saja, sebagian dari kita pun harus melewati pengalaman yang buruk sekali pun. 

“Seperti apa yang aku alami, hal ini dapat disebut sebagai peristiwa traumatis masa kecil atau trauma masa kecil," tuturnya

"Sebuah peristiwa menakutkan atau berbahaya yang dialami seorang anak, yang menyakitkan secara emosional, membuat anak dalam posisi tertekan, dan sering kali memberikan efek berkepanjangan. Ini yang harus diwaspadai,” tambahnya. 

Langkah untuk menyembuhkan trauma masa kecil

Trauma masa kecil tentu bisa dipulihkan. Sempat mengalami hal serupa, Dena mengungkapkan beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menyembuhkan luka itu. 

Pertama adalah mengingat kembali memori masa lalu. Terkadang, sebut Dena, kita harus memberikan usaha lebih, untuk mengingat sesuatu yang sebetulnya melukai kita. 

"Alam bawah sadar kita cenderung menguburnya dalam-dalam, jadi kita seolah lupa akan hal tersebut. Coba duduk tenang dan ingat-ingat. Kemudian, di masa sekarang, pikirkan situasi yang membuatmu tak nyaman, yang bisa memicu emosimu. Rasakan, pusatkan pikiranmu," sarannya. 

Langkah kedua adalah dengan mengenali emosi dan sensasi, yang kita biasa rasakan di situasi tertentu.

“Pahami diri kita sendiri. Bila berada di situasi A, respon apa yang akan kita berikan? Emosi seperti apa? Kemudian, coba pahami dan namai emosi tersebut. Oh, ini marah, ini kecewa, ini sakit hati. Be more conscious,” ungkapnya.

Langkah ketiga adalah mengambil pesan dari emosi dan sensasi yang kita rasakan. Dena menyarankan untuk merefleksikan emoosi dan sesnasi itu, apakah emosi dan sensasi tersebut memiliki kaitan dengan peristiwa traumatis di masa lalu? 

Cermati baik-baik. Bila sudah, coba berbagilah dengan orang lain yang kita percayai. 

“Namun, yang terpenting adalah know that we're worthy and loved and strong karena kita punya Tuhan yang sertai kita, so be brave,” sambungnya.[]