Ekonomi

Transaksi Digital Jadi Primadona Kala Pandemi, Perusahaan Adu Kuat Garap Digitalisasi

Pelaku usaha harus mampu melakukan adaptasi dan strategi bisnis agar tetap bertahan di era pandemi Covid-19, salah satunya ialah dengan digitalisasi


Transaksi Digital Jadi Primadona Kala Pandemi, Perusahaan Adu Kuat Garap Digitalisasi
Riset: permintaan konsumen terhadap transaksi digital meningkat di Indonesia akibat pandemi (dok. ACI Worldwide)

AKURAT.CO Pelaku usaha harus mampu melakukan adaptasi dan strategi bisnis agar tetap bertahan di era pandemi Covid-19, salah satunya ialah dengan digitalisasi. Digitalisasi ini disinyalir merupakan langkah tepat bagi para pelaku usaha, lantaran di tengah keterbatasan aktivitas fisik karena hantaman pandemi Covid-19 membuat pelaku usaha dapat terus menjalankan bisnisnya tanpa tatap muka.

Situasi ini pun membuat transaksi digital banking selama pandemi menjadi melonjak.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menyatakan, pada masa pandemi penggunaan transaksi digital kini semakin digemari. Bahkan transaksi via ATM yang dulu sangat populer saat ini sudah mulai ditinggalkan.

"ATM yang dulu populer sekarang menurun penggunaannya cuma 13%, cabang yang dulu 40% sekarang 0,8%. Jadi 86% lebih itu sudah digitalize apakah itu dalam bentuk mobile banking, internet banking dan super apps kita yang baru smuanya digitalisasi," tutur Jahja.

Jahja mengklaim selain transaksi digital, pihaknya juga terus melakukan adaptasi dan proses bisnis kearah digital guna mempertahankan kinerja di tengah pandemi.

"Memang masa-masa sulit tahun 2020 kita belajar meningkatkan kinerja digital kita baik itu morgage, Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), digital payment, hingga membuat aplikasi yang baru. Kita siap mengalihkan bank royal menjadi bank digital BCA dan juga Rabobank ditambahkan ke bank syariah BCA, dan disamping itu kita juga terus giatkan edukasi nasabah untuk terus gunakan digital," cetusnya.

Selain BCA, sejumlah pelaku usaha juga melakukan hal yang serupa. Diantaranya Presiden Direktur BNI Life Shadiq akasya yang mengakui, dalam kondisi pandemi ini pelaku usaha dipaksa mengubah proses bisnis. Sehingga pihaknya juga tengah bersiap dengan proses digitalisasi. 

"Saat ini harusnya kita menambah value added kepada customer. Kami dalam merubah digital tidak hanya sistem tapi kita juga harus lihat dari desain security/ keamanan dan data. Karena isu security data menjadi hal yang penting saat ini," ucap Shadiq dalam kesempatan yang sama.

Untuk diketahui, pandemi Covid-19 telah membuat semua orang kini terbiasa melakukan transaksi digital. Hal ini bisa dilihat dari meningkatnya transaksi digital banking selama masa pandemi.

Dari laporan BI, pada Juni nilai transaksi digital banking tumbuh 66,4% yoy sebesar Rp3.100 triliun. Adapun tidak hanya di bank yang tumbuh tapi juga asuransi dan berbagai usaha keuangan yang lain.[]