News

Tragis dan Belum Terpecahkan, 4 Kasus Pembunuhan Keluarga Paling Misterius di Dunia

Tragis dan Belum Terpecahkan, 4 Kasus Pembunuhan Keluarga Paling Misterius di Dunia
Gambar hanya untuk ilustrasi (https://rb.gy/mplrxo)

AKURAT.CO  Kasus kematian satu keluarga di Kalideres, Jakarta Barat terus menyita perhatian warga Indonesia. Penuh tanda tanya, hingga kini, polisi masih berupaya menelusuri penyebab kematian mereka.

Fakta terbaru mengungkap bahwa jenazah si ibu mengalami mumifikasi, tetapi terlihat dalam kondisi terawat. Sementara, anaknya, yang bernama Dian, wafat di samping ibunya, meringkuk di dalam kamar terkunci sambil memeluk guling. Dian, yang berusia 42 tahun, disebut-sebut paling terakhir meninggal, menyusul ibu, ayah, dan pamannya.

Meski satu per satu temuan dan fakta terungkap, misteri masih meliputi kematian keluarga di Kalideres ini. Dua pekan lebih sejak temuan jasad keluarga itu, polisi masih belum bisa menyimpulkan penyebab atau motif pemicu terjadinya kematian massal.

baca juga:

Sayangnya, kasus kematian keluarga kerap terjadi di negara-negara lainnya, seperti yang terkenal adalah kematian 11 anggota keluarga Burari dari India. Kasus kematian keluarga lainnya banyak berkaitan dengan pembunuhan, tetapi beberapa juga berakhir menjadi misteri lantaran sampai saat ini, belum diketahui secara pasti siapa pembunuhnya dan apa motifnya. Kasus apa saja itu? 

Dilansir dari berbagai sumber, AKURAT.CO menghimpun 4 kasus hingga kronologi pembunuhan keluarga paling misterius di dunia.

1. Kasus keluarga Geylang Bahru di Singapura

Tragis dan Belum Terpecahkan, 4 Kasus Pembunuhan Keluarga Paling Misterius di Dunia - Foto 1
 Screengrab/meWATCH

Pembunuhan keluarga Geylang Bahru terjadi pada 1979 silam, tapi sudah 46 tahun, kasusnya masih menjadi misteri. Kasus ini begitu terkenal di Singapura, dengan polisi telah mewawancarai lebih dari seratus orang yang kemungkinan menjadi tersangka. 

Pada tanggal 6 Januari tahun itu, Tan Kuen Chai dan istrinya, Lee Mei Ying, bekerja seperti biasa. Keduanya mengoperasikan bus untuk mengantar anak-anak ke sekolah pada pukul 6.30 pagi. 

Tan memiliki empat anak, seorang putri berusia 5 tahun, duduk di taman kanak-kanak, Tan Chin Nee, dan tiga putra yang bersekolah di SD, bernama Tan Kok Peng (10); Tan Kok Hin (8); dan Tan Kok Seen (6)

Sekitar 30 menit usai berangkat kerja, atau pukul 7.10, Mei Ying menelepon anak-anaknya hingga tiga kali agar bangun dan bersiap ke sekolah. Namun, alangkah terkejutnya Mei Ying lantaran tidak ada satupun dari anak mereka yang menangkap telepon. Alhasil, Mei Ying menghubungi seorang tetangga, yang kemudian mencoba untuk membangunkan anak-anak itu dengan mengetuk pintu depan. Hasilnya pun nihil-tak ada yang menjawab.