News

Tragedi Kajuruhan Terus Diliput Media Asing, Soroti Upaya Pemerintah Bentuk Tim Pencari Fakta 

Tragedi Kajuruhan Terus Diliput Media Asing, Soroti Upaya Pemerintah Bentuk Tim Pencari Fakta 
Petugas polisi berusaha menghentikan para suporter yang memasuki lapangan di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada Sabtu (1/10) malam (H Prabowo/EPA, via Shutterstock)

AKURAT.CO  Tragedi di Stadion Kajuruhan, Malang yang menelan korban ratusan jiwa, terus disorot media asing. Dari pantauan tim redaksi, lusinan surat kabar asing dari berbagai negara melaporkan insiden ini, dengan perkembangan masih terus dilaporkan. 

New York Times (NYTimes) misalnya, media ternama dari Amerika Serikat ini terlihat masih mengawasi berbagai perkembangan terbaru, dengan 'live updates' disajikan di laman khusus untuk laporan Kajuruhan.

Al Jazeera juga termasuk outlet berita populer yang rajin meliput tragedi Kajuruhan, termasuk menyajikan video liputan khusus hingga galeri foto. Dalam perkembangan teranyar, media dari Qatar ini melaporkan soal upaya Indonesia untuk menggelar investigasi independen terkait kerusuhan pada Sabtu (1/10).

baca juga:

"Indonesia akan membentuk tim pencari fakta independen untuk menyelidiki penyerbuan di stadion sepak bola di mana sekitar 125 orang, termasuk lebih dari selusin anak, tewas," tulis Al Jazeera dalam tajuk 'Indonesia Announces Investigation into Malang Football Disaster'.

Sama dengan Al Jazeera, NYTimes hingga Reuters juga melaporkan perihal investigasi dari pemerintah Indonesia.

"Seorang pejabat senior Indonesia mengatakan pada hari Senin bahwa ia akan mengadakan penyelidikan independen atas kematian setidaknya 125 penggemar sepak bola setelah polisi menembakkan gas air mata ke sebuah pertandingan," lapor NYTimes.

"Indonesia telah membentuk tim independen untuk menyelidiki kerusuhan di stadion sepak bola yang menewaskan 125 orang, termasuk 32 anak-anak, kata pihak berwenang pada hari Senin, saat komisi hak asasi manusia mempertanyakan penggunaan gas air mata oleh polisi," kata Reuters dalam laporannya, Senin (3/10).

Menurut media asing, upaya penyelidikan independen disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud Md. Mengutip keterangan Mahfud Md, investigasi ini pada dasarnya bertujuan untuk mencari tahu apa  yang sebenarnya terjadi dan demi mengidentifikasi para pelaku.

Tragedi Kajuruhan Terus Diliput Media Asing, Soroti Upaya Mahfud Md untuk Bentuk Tim Pencari Fakta  - Foto 1
 Suporter Arema berdoa saat berjaga di luar stadion Kanjuruhan usai pertandingan pada Sabtu (1/10) malam-Willy Kurniawan/Reuters

Musibah pada Sabtu malam dimulai setelah Arema F.C. kalah. Itu adalah pertama kalinya mereka ditumbangkan di kandang sendiri dalam 23 tahun. 

Saat para suporter turun ke lapangan, polisi menembakkan gas air mata, mendorong para pendukung yang panik untuk bergegas menuju gerbang keluar.

Beberapa orang mati lemas dalam kekacauan, sementara yang lain terinjak-injak sampai mati. Dua petugas polisi termasuk di antara mereka yang tewas di stadion, serta setidaknya 17 anak-anak. 

"Itu adalah salah satu bencana terburuk di stadion sepak bola di mana pun di dunia," tulis Al Jazeera.

Menurut NYTimes, Mahfud MD yang merupakan menteri keamanan utama Indonesia, mengatakan bahwa penyelidikan akan memakan waktu sekitar dua minggu. Investigasi ini nantinya akan mempertimbangkan apakah ada hukum yang telah dilanggar; kompensasi apa yang harus diberikan kepada para korban dan bagaimana sepak bola Indonesia dapat mencegah bencana stadion di masa depan.

Media asing juga telah mulai menyoroti penggunaan gas air mata oleh polisi, dimana hal ini tegas dilarang oleh FIFA.

Sebagaimana dilaporkan Reuters, FIFA, badan pengatur sepak bola dunia, mengatakan dalam peraturan keamanannya bahwa senjata api atau 'gas pengendali massa' tidak boleh digunakan dalam pertandingan.

Jika tidak ada gas air mata, mungkin tidak akan ada kekacauan,” kata Choirul Anam, seorang komisaris di Komnas HAM, dalam pengarahan di stadion, seperti dikutip Reuters.

Hampir sama, NYTimes menyebut bahwa bencana di Kajuruhan telah memusatkan perhatian pada penggunaan gas air mata oleh polisi setempat. Mengingat saat insiden berdarah itu terjadi, stadion begitu padat. 

"Di Twitter, salah satu topik trending teratas di Indonesia adalah 'Kapolri', dengan banyak orang Indonesia menyerukan agar dia dicopot," lapor NYTimes dalam update laporan tragedi Kajuruhan.

Seorang juru bicara Polri mengatakan bahwa selain korban tewas yang besar, ada laporan bahwa setidaknya 300 orang terluka. Polri juga telah membuka penyelidikan internal dan menanyai 18 petugas yang mengoperasikan senjata gas air mata.

Persaingan sengit dan sering mematikan antara tim-tim besar adalah hal biasa di Indonesia, menurut laporan NYTimes. Beberapa tim bahkan memiliki klub penggemar dengan apa yang disebut komandan, yang memimpin kelompok besar pendukung. Suar pun sering dilemparkan ke lapangan, dan polisi anti huru hara selalu hadir di banyak pertandingan. Tercatat sejak tahun 1990-an, puluhan penggemar tewas dalam kekerasan terkait sepak bola.

"Namun, Indonesia belum pernah melihat bencana stadion olahraga dalam skala ini. Tragedi hari Sabtu tampaknya menjadi badai yang sempurna dari segala sesuatu yang bisa saja salah di sebuah pertandingan sepak bola," imbuh NYTimes. []